Tampilkan postingan dengan label Konsultasi. Tampilkan semua postingan

Oleh :Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya (Rais Am Jam'iyah Ahlith Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah)

Sering kita dengar banyak orang yang salah dalam memahami arti bela negara. Kebanyakan mereka mengasumsikan bela negara dengan kewajiban militer. Rakyat diorganisir, dilatih, diberi seragam dan dipersiapkan untuk berperang melawan bangsa lain.

Bela negara masih diidentikan dengan tentara dan perang. Atau bela negara diartikan hanya sebatas melawan musuh, menjaga batas territorial, dan mewujudkan keamanan dan keselamatan seluruh warga negara saja. Pemahaman seperti itu tidak sepenuhnya salah. Memang itu juga bagian dari bela negara, atau bela negara dalam arti sempit.

Padahal arti bela negara itu sendiri sangat luas. Membangun ekonomi nasional itu termasuk bela negara. Memberantas narkoba juga bagian dari bela negara, karena narkoba merusak otak dan syaraf generasi muda, anak-anak bangsa. Bagaimana generasi yang akan datang bisa membangun negara kalau mereka dirusak mental dan otaknya.

Kita mencintai hasil karya produksi dalam negeri, hasil karya bumi pertiwi, kita tingkatkan buah-buahan Indonesia supaya setaraf dengan buah-buahan dari luar negeri, kita punya kefanatikan tidak memberikan income kepada orang lain, tapi kami berikan kepada saudara kami sebangsa terlebih dahulu, itu juga bagian dari bela Negara. Sangat luas.

Tidak harus dengan sesama Muslim, saling membantu dengan non-Muslim pun kita termasuk bela negara. Yang non-Muslim, meski mereka beda agama, tapi tetap saudara sebangsa dan setanah air. Kalau mereka sesama Muslim, berarti mereka saudara kita: saudara seagama, sebangsa dan setanah air.

Mereka –saudara yang non-Muslim- kalau sakit, kami pun berusaha merasakan itu sakit, karena mereka saudara sebangsa setanah air kami.

Nah, bagaimana kita menguntungkan perdagangan sebangsa setanah air kita dulu. Untuk apa, ya untuk negara dan bangsa ini. Kalau kita berpikir mengutamakan beli dari Malaysia dulu karena di sana mayoritas Muslim, oke. Tapi berilah keuntungan negara kami terlebih dahulu.

Meninggalkan korupsi termasuk bela negara. Dengan meninggalkan korupsi, kita sudah membantu masyarakat dan bangsa dalam meningkatkan kualitas kehidupan. Bela negara juga dapat dilakukan degan cara melindungi warga dari berbagai model pemikiran dan pemahaman yang menyebabkan timbulnya perpecahan, disintegrasi, pengkafiran dan pelanggaran terhadap hak orang lain. Sebab pemikiran yang melenceng punya kecenderungan untuk melakukan pengrusakan, penumpahan darah, perampasan harta dan merendahkan harkat kehormatan manusia yang lain.

Pemikiran dan pemahaman yang melenceng ini tidak kalah bahayanya dibandingkan dengan tentara asing yang merebut tanah air kita.

Arti bela negara memang sangatlah luas. Termasuk para kiai mendidik para santri untuk mempersiapkan mental generasi mendatang, para ulama tarekat melestarikan ajaran salafus shalih di tengah masyarakat, semua termasuk ke dalam bingkai bela negara. Pokoknya apa saja yang bernilai sumbangsih dalam membangun dan mengokohkan negara ini, termasuk bagian dari bela negara. Dan ini hukumnya wajib bagi setiap kita sebagai anak bangsa.

Jangan diragukan lagi nasionalisme para ulama. Mereka, terlebih ulama tarekat, sudah sangat jelas keberpihakannya pada negara ini. Bahwa mereka para ulama, para habaib, para mursyid, para kiai, secara lahir batin mencintai negara ini dengan setulus hati. Bukti-bukti sejarah tidak bisa dibantah lagi. Mereka tidak pernah bughat (memberontak). Justru mereka rela berkorban untuk negeri ini.

Bahkan diakui oleh Belanda, salah satu pilar utama kekuatan bangsa ini sehingga sulit ditaklukkan sepenuhnya adalah karena kuatnya ngaruh ulama tarekat di tengah masyarakat.

Perang besar di Surabaya pada 10 November 1945 - insya Allah - tidak akan terjadi sedahsyat itu dan rakyat tidak akan berani senekad itu, kalau tidak ada semangat perjuangan yang dikobarkan oleh para uiama lebih-lebih para ulama tarekat.

Para ulama yang memberi gemblengan batin untuk berani mati syahid adalah para pengamal tarekat Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Kiai subchi Parakan yang ahli suwuk bambu runcing, Pangeran Diponegoro, adalah para pengamal tarekat. Bahkan Pangeran Diponegoro adalah seorang mursyid tarekat.

Kesetiaan para ulama tarekat pada Negara Kesatuan Republik Indonesia ini di era sekarang juga dapat dilihat dari keputusan mereka yang dikenal dengan Sembilan Konsensus Ulama Thariqah yang diputuskan di Pekalongan pada 16 Januari lalu. Betapa mereka sangat mencintai negeri ini.

Pada keputusan keempat misalnya, mereka meyakinl bahwa bela negara merupakan suatu kewajiban seluruh elemen bangsa sebagaimana dijelaskan al-Quran dan al- Hadits. Sedangkan keputusan ketujuh, mereka menolak adanya terorisme, radikalisme dan ekstremisme yang mengatasnamakan agama.

Para ulama tarekat menyadari, aksi terorisme, radikalisme dan ekstremisme yang mengatasnamakan agama, selain berpangkal pada keyakinan yang salah pada ajaran agama itu sendiri, seringkali juga disebabkan dari kepentingan dan hawa nafsu pribadi ataupun pimpinan kelompok mereka. Padahal ajaran agama itu sendiri adalah santun dan membawa kedamaian bagi umat dan alam semesta.

Pentingnya tanah air, dalam pandangan ulama tarekat, dapat kita lihat dari syair Iraq yang dibacakan oleh Habib Ali al-Bahar seusai pembacaan konsensus. "Kalau kita kehilangan emas, kita bisa mendapatkannya kembali di pasar emas. Kalau kita kehilangan kekasih, tahun depan kita bisa bertemu kekasih kembali. Tapi kalau kita kehilangan tanah air, di mana kita bisa mendapatkannya?"

Itulah sikap kita para ulama tarekat. Sampai kapan pun akan tetap setia kepada tanah air kita. Karena dengan adanya tanah air yang merdeka, kita bisa beribadah dengan bebas. Di atas tanah air ini pula kita dapat melakukan dakwah dan mengamalkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama'ah dengan damai. Kita benar-benar mencintai tanah air dan bangsa kita ini. Kalau ada pihak-pihak lain yang merugikan bangsa ini, tentu kita tidak akan tinggal diam.

Patut diketahui, wajib, sunnah, atau mubahnya hukum mengikuti tarekat itu terkait dengan wajib. Sunnah, atau mubahkah hukumnya menghilangkan sifat kealpaan dan kelupaan manusia kepada Allah. Mesti diingat, salah satu sifat manusia adalah lupa kepada Tuhannya. Inilah peranan kewajiban seseorang masuk tarekat. 

Dengan tujuan menghilangkan sifat-sifat kealpaan dan kelupaan diri kepada Tuhannya. Sifat-sifat itu perlu diberantas. Karena inilah sumber perbuatan-perbuatan tidak terpuji yang dilakukan manusia. Termasuk terhadap pelanggaran hukum agama dan sebagainya. Kalau kealpaan atau kelupaan itu busa diberantas, minimal dia akan selalu merasa dilihat dan didengar Allah swt.

Contoh kecil, banyak orang tahu bahwa paku kecil yang tercecer di jalan, entah berkarat atau tidak, itu berbahaya. Begitu melihat, dia tahu bahwa itu paku, tapi belum menjadi bukti bahwa dia adalah orang yang ingat kepada Allah kalau belum mau mengangkat dan membuang ke tempat yang tidak membahayakan. Sebab daerah itu biasa dilalui anak-anak untuk bermain atau orang yang lewat di sana.

Selanjutnya untuk menilai muktabar atau tidaknya sebuah tarekat, harus dilakukan seperti kita mempelajari ilmu hadits. Ada jalur sanad-sanadnya, mulai dari ulama, auliya, sahabat, Rasulullah dan tentu bermuara ke Allah. Lantas semua yang ada di dalamnya itu tidak boleh melanggar semua isi al Quran dan hadits. Tinggal bagaimana orang yang membicarakan itu. Kalau dia masih TK, pasti pembicaraannya seperti anak-anak, demikian halnya anak SD, SMP, SMA. Senebagaimana pendidikannya. Demikian juga dalam hal perilakunya.

Jemaah wirid bisa dinamakan pengikut tarekat. Karena al Quran dan Hadits itu adalah pedoman orang-orang ahli tarekat. Yang penting tarekat itu adalah buah syariat. Bukan syariat itu buah tarekat.

Contoh mudahnya adalah masalah wudhu. Wudhu adalah penghantar kita melaksanakan shalat. Setelah shalatnya sesuai dengan ketentuan, syaratnya, rukunnya, batalnya atau tidaknya, barulah kita dapat mengetahui semuanya, termasuk buah dari shalat itu apa. Di sinilah tarekat itu berbicara. Buah orang shalat adalah semakin jauh dari ahli neraka. Dan cinta seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya itu lebih tinggi, lebih tinggi, dan begitu seterusnya. Dan sebaliknya, kemaksiatan akan semakin terhapus.

Di Indonesia, kita mengenal ada sebanyak 41 tarekat Mu'tabarah, tetapi pecahannya (cabangnya) banyak. Perumpamaan tidak ikut tarekat yang tidak muktabar itu seperti kita mau pergi ke Jakarta, kemudian ada kereta api dan bus jurusan Jakarta, lalu kita naik sembarang truk yang lewat asal sampai Jakarta misalnya, apakah itu bisa disebut disiplin? Mengapa harus mengikuti yang belum jelas sedangkan yang jelas-jelas ada sudah tersedia?

Jelasnya, fungsi, definisi, dan kedudukan suatu tarekat harus dilihat dari kedudukan mata rantainya kepada Rasulullah, hingga mendapat predikat apakah sebuah tarekat itu muktabar atau tidak, sebagaimana istilah hadits itu adalah kesahihannya. Wallahu a’lam


Sumber : Habib Luthfi dalam buku “Mengenal Tarekat ala Habib Luthfi”, hal. 11-13.

Ada banyak peristiwa yang kita anggap besar; peristiwa yang laksana angin badai datang menerpa rumah kedirian kita, membuka jendela-jendela persepsi kita, mengguncang arsitektur kesadaran kita, dan mengubah diri kita, entah itu untuk sementara atau untuk selamanya. Lalu kita berusaha merenungkan dampak peristiwa itu, bagi diri kita sendiri atau, barangkali, bagi cara pandang kita terhadap keberadaan diri kita sebagai manusia.

Namun peristiwa “besar” itu tak selalu berupa kejadian historis yang mengguncang tatanan sosial atau kemanusiaan — peristiwa besar itu boleh jadi sebentuk momen pencerahan, seperti lintasan cahaya kilat di kegelapan pekat yang membuat kita memandang situasi sekitar kita yang, walau mungkin hanya sesaat, membuat kita menyadari akan adanya sesuatu yang lain. Barangkali dalam perjalanan hidup kita ada banyak momen-momen pencerahan semacam itu namun, sayangnya, kita terlampau sibuk oleh hiruk-pikuk dunia, oleh pikiran yang seperti tiada kenal lelah menjelajah di benak kita. Karena itu, beberapa orang yang peduli pada kehidupan kontemplatif merasa harus menarik diri, setidaknya untuk sementara, untuk menangkap momen-momen pencerahan itu.

Tetapi, terkadang juga momen itu datang secara tak terduga, seperti sebentuk takdir yang tak terelakkan yang memerangkap kita begitu saja dalam keterpesonaan mistis yang membuat kita merasa waktu berhenti sepenuhnya, membuat kita merasakan sesuatu daya yang sungguh berada di luar kendali kita dan mengendalikan seluruh hidup kita. Dan kitapun bertanya-tanya lagi tentang siapa diri kita sesungguhnya: dari mana, mau ke mana dan untuk apa hidup? Apa arti kehidupan yang suatu saat nanti pasti berakhir?

Apakah hidup itu seperti yang digambarkan kisah Yunani kuno, mitos Sisifus? Sisifus dikutuk oleh para dewa untuk mendorong batu besar ke puncak gunung seumur hidupnya, dan begitu sampai di puncak, batu itu akan mengelinding lagi ke bawah — dan Sisifus harus mendorongnya lagi ke atas, dan kejadian itu berulang selamanya. Seperti juga kita semua, hari demi hari berjuang bertahan hidup meski kita tahu bahwa kematian tak bisa kita halau. Detik demi detik kita menyerap cinta dan bahagia, walau pada saat yang sama kita juga menghisap derita dan kesedihan. Barangkali tangis pertama bayi adalah tangis kebahagiaan dan kesedihan, sebab ia mungkin, entah bagaimana, tahu bahwa kelak akan menghadapi banyak hal yang mungkin membuat hatinya “berbunga-bunga” dan “berdarah-darah.”

Selama pencarian makna ini, samar-samar saya mendengar ada aspek dalam agama Islam yang bisa membuat kita memahami makna kehidupan ini secara lebih mendalam dan membuat hidup kita lebih tenang dan damai — yakni ajaran Tasawuf. Saya mengawali perkenalan dengan Tasawuf dari buku-buku, dari cerita mulut ke mulut. Berbulan-bulan saya menekuninya, namun tak kunjung datang itu kedamaian di hati. Lalu muncul prasangka buruk ketika menjumpai banyak hal yang “aneh-aneh” dalam ajaran Tasawuf, dan prasangka ini bertambah kuat karena ada pandangan buruk tentang Tasawuf dari sebagian kalangan umat Islam modern. Pada akhirnya saya memutuskan untuk belajar langsung dari tangan pertama, kepada orang yang diakui luas sebagai Mursyid pengamal ajaran Tasawuf.

Ringkas cerita, saya datang dengan penuh semangat mengunjungi Guru Sufi termasyhur di Jawa Barat, Kyai Ahmad Shahibul Wafa Taj al-Arifin, Mursyid Tarekat Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah. Di benak saya telah tersimpan banyak pertanyaan yang akan saya ajukan, dengan harapan beliau memberi keterangan yang panjang lebar. Tetapi peristiwa selanjutnya di luar dugaan saya.

Saya berangkat dari Yogyakarta selepas subuh, naik kendaraan roda dua, dan sampai di Pesantrennya di Tasikmalaya pada malam hari. Selepas shalat subuh berjamaah keesokan harinya, saya ikut diajari zikir, atau inisiasi, yang diistilahkan talqin zikir. Sesudah itu saya menginap lagi untuk mempraktikkan ajaran zikir tarekat itu di sana, sembari mencari tahu lebih jauh tentang beberapa hal tentang tarekat.

Saat sowan di lain waktu, para tamu, termasuk saya, diberi kesempatan untuk berbincang dengan beliau. Setelah berbasa-basi sejenak, sebelum saya sempat mengeluarkan sepatah katapun, Kyai tiba-tiba bertanya sambil memandang saya, “Siapa ya yang datang dari Yogya?” Saya bersama seorang teman saya mengangkat tangan. “Besok pulang ya,” kata beliau sambil tersenyum. Apa-apaan ini? Begitu pikiran saya waktu itu. Saya merasa tak puas. Namun selepas pertemuan, seorang ikhwan menasihati saya agar saya menuruti perintahnya. Akhirnya saya pulang juga esok hari selepas subuh, tanpa sempat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang masih tersimpan di pikiran.

Baru saja saya sampai di kamar kost saya pada sore hari, datang seorang mahasiswi, teman dari teman saya. Kedatangannya hendak minta tolong karena ada keadaan darurat. Mahasiswi itu harus menyerahkan skripsinya esok hari, namun file skripsinya rusak terkena virus, padahal belum sempat di print-out. (Saya waktu itu memang bekerja di rental komputer sebagai tukang membantu membuat dan mengatasi segala masalah yang berhubungan dengan pengetikan, penyuntingan dan penyelesaian skripsi.) Dan kami berdua mengerjakan skripsi itu selepas maghrib hingga selesai menjelang subuh.

Setelah dia pulang, seusai salat subuh saya mulai memikirkan kejadian aneh ini. Mengapa sepulang dari pesantren itu saya disambut dengan permintaan tolong? Sepertinya Kyai itu tahu apa yang mesti saya lakukan bahkan sebelum peristiwanya terjadi. Saya terus memikirkannya, tapi tak juga menemukan jawaban yang memuaskan. Setelah beberapa bulan, pada satu ketika saya terbayang wajah Kyai itu dan sorot matanya. Pada detik itulah saya seperti melihat semuanya, seperti ada “lempengan cahaya pengetahuan” yang susul-menyusul masuk ke benak; dan entah bagaimana, saya merasa tak perlu lagi bertanya ke mana-mana. Apa yang selama berbulan-bulan saya pikirkan dengan segenap akal pikiran saya tiba-tiba menjadi jelas hanya dalam hitungan detik. Apa yang saya cari tiba-tiba sudah ada dalam hati.

“Pengusiran” oleh sang Kyai itu menyadarkan saya tentang satu hal yang amat penting: bahwa ada banyak hal yang berada di luar jangkauan akal-logika, sesuatu yang mengatasi ruang dan waktu. Makna murid sami’na wa atha’na, “mendengar dan taat,” menjadi begitu jelas. Dalam kasus saya, Kyai itu sepertinya tahu bahwa hidup saya, pada momen itu, lebih bermanfaat jika saya pulang ketimbang jika saya ada di sana — saya bisa membantu seseorang keluar dari kesulitan.

Pada akhirnya saya menyadari makna utama dari perintah “pulang” itu: Saya harus “pulang” menziarahi diri saya sendiri, sebab segala apa yang saya cari ada dalam diri saya sendiri — Man 'Arafa Nafsahu, Faqad 'Arafa Rabbahu, “Barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya.”

Tri Wibowo BS (Penulis dan Penerjemah Buku, Ikhwan Thariqah, Tinggal di Jogja)

Sumber: Mbah Nyutz

Di malam ke-25 Ramadlan 1433 H, gerimis rintik-rintik membahasi tanah Pekalongan. Daerah lain masih banyak yang kekeringan atau kekurangan air, namun kami sudah merasakan sejuknya rintik gerimis dan wanginya bau tanah yang disirami gerimis.

Malam itu, kami masih baru memulai mengaji kitab Fathul Bari (Syarh Shohih Bukhori) di bawah asuhan guru kami yang mulia, al-‘alim al-‘allamah al-‘arif billah al-mursyid al-kaamil Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, dan bertempat di garasi mobil dan halaman rumah Maulana Al-Habib, sehingga kami yang memperoleh tempat duduk di halaman ndalem, merasakan bagaimana sejuknya dan dinginnya air gerimis yang menetes tanpa permisi itu. Akan tetapi, malam itu Maulana Al-Habib tidak menyuruh kami pindah atau menepi ke garasi yang beratap. Sehingga, kami pun tak berani untuk beranjak dari tempat duduk kami, karena kuatir kami menjadi murid yang suu-u al-adab. Malam itu, seakan-akan Maulana Al-Habib membiarkan kami berbasah-basah ria, atau menyuruh kami menikmati gerimis yang turun dengan penuh kelembutan.

Namun, nampaknya Maulana Al-Habib melihat kami mulai gelisah dan tidak nyaman karena pakaian dan buku kami mulai basah oleh gerimis. Sehingga Maulana Al-Habib pun menyuruh kami untuk segera menepi atau masuk berdesak-desakkan di dalam garasi yang beratap. Sambil menyuruh kami menepi ke tempat yang teduh, beliau berpesan kepada kami, agar kami berteduh tidak diniati menghindari rahmat Allah. Bahkan Maulana Al-Habib pun melanjutkan bahwa gerimis yang turun ini menandakan bahwa malam ini (25 Ramadlan 1433-red) adalah malam lailatul qadar. Sontak saja wajah kami berubah ceria dan berseri-seri, bahkan diantara kami ada yang menatap langit, dan dari bumi langit Nampak bersinar terang, sekalipun gerimis turun.

Gerimis adalah rahmat, hujan adalah berkah. Begitulah pesan para sesepuh kami. Begitulah pesan raja Tarumanegara. Dan saya pikir, Maulana Al-Habib pun sepakat dengan statemen tersebut. Namun, kita seringkali bersikap seakan-akan hujan adalah musuh, seakan-akan hujan adalah bencana, bukan berkah, bukan rahmat, sehingga tak jarang kita begitu membenci hujan, dan selalu menyalahkan hujan jika terjadi banjir atau tanah longsor. Kita lupa, bahwa kita sering berdoa minta kepada Tuhan agar Tuhan menurunkan hujan di saat musim kemarau membuat tubuh dan tanah kita panas, membuat sumur-sumur tak lagi berarti, dan tanah-tanah retak. Kita lupa, bahwa hujan hanya menjalankan tugasnya menyirami bumi agar bumi segar, agar bumi bersih, bak kita sedang berhadats besar kemudian kita mandi jinabat, dan bumi pun perlu mandi jinabat akibat kelakuan kita sendiri yang suka menodai kesucian dan kehormatan sang bumi.

Padahal di daerah-daerah lain semisal di beberapa daerah pulau Kalimantan, atau kabupaten demak, hujan di posisikan sebagai keberkahan, kebutuhan, dan sahabat, sehingga ketika hujan turun tidak serta merta air hujan itu dibuang, namun ditadahi dengan tempat khusus semacam penampungan air atau tandon, dan kemudian ketika musim kemarau tiba, air-air hujan itu dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari seperti memasak, minum, dan mandi.

Sebagai manusia biasa yang menjadi tempatnya salah dan lupa, hendaknya kita selalu mengingat bahwa banjir dan tanah longsor bukan salah hujan yang turun, namun itu salah kita sendiri yang membiarkan diri kita diperbudak oleh nafsu dengan cara membuang sampah di kali atau selokan, menebang pohon secara membabi buta, sehingga hutan-hutan dan pegunungan menjadi gundul, atau menjadi hutan beton. Selain itu, drainase-drainase yang tidak berfungsi karena salah penempatannya atau desainnya pun ikut menyumbang genangan air di samping juga semakin sedikitnya pohon-pohon di kota atau pemukiman.

Akhirnya, sudah sepatutnya kita berintrospeksi diri melihat bencana banjir dan longsor yang seperti jalan tak berujung ini, karena sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Khidir AS, bahwa air akan menjadi api kalau tidak kita gunakan untuk berwudlu. Wallahu A’lam.

Sumber: Oon

Jumat dianggap hari paling mulia dibanding hari lainnya. Pada hari itu pula seluruh umat Islam, khususnya laki-laki, berbondong-bondong ke masjid untuk menunaikan sholat Jum’at. Kemulian hari Jum’at ini dibuktikan dengan banyaknya ragam ibadah sunah yang dikerjakan khusus pada hari itu.

Dalam beberapa riwayat dikisahkan bahwa Nabi SAAW melakukan aktivitas tertentu di hari Jum’at. Aktifitas tersebut tidak melulu bersifat ritual, semisal wiridan, do’a, sholat, dan sejenisnya.. Akan tetapi, beliau juga suka mengerjakan ibadah yang bersifat sosial.

Al-Suyuthi dalam kitabnya, ‘Amal Yaum wa Lailah, mengatakan:

ويقرأ بعد الجمعة قبل أن يتكلم: الإخلاص والمعوذتين (سبعا سبعا). ويكثر من الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم سوم الجمعة وليلة الجمعة.ويصلى راتبة الجمعة التي بعدها في بيته لا في المسجد. وما ذا يفعل بعدها؟ ويمشى بعدها لزيارة أخ أو عيادة مريض أو حضور جنازة أو عقد نكاح

“Nabi SAAW membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas usai sholat Jumat sebanyak tujuh kali dan beliau juga memperbanyak sholawat pada hari Jumat dan malamnya. Ia juga mengerjakan shalat sunah setelah sholat Jum’at di rumahnya, tidak di masjid. Setalah itu apa yang dilakukan Nabi SAAW? Beliau mengunjungi saudaranya, menjenguk orang sakit, menghadiri penyelenggaraan jenazah, atau menghadiri akad nikah.”

Nabi SAAW mengajarkan kepada umatnya agar membiasakan membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas sebanyak tujuh kali setelah sholat jum’at, serta memperbanyak sholawat. Usai membaca kalimat suci tersebut dan melantunkan do’a, biasanya beliau melakukan sholat sunah di rumahnya.

Hari Jum’at juga dijadikan Rasulullah SAAW sebagai momentum untuk silaturahmi kepada sanak-famili. Semisal, mengunjungi orang-orang yang sedang sakit ataupun ditimpa musibah, membantu proses penyelenggaraan jenazah, atau menghadiri akad nikah. Wallahu a’lam.

Sumber: NU Online
Diberdayakan oleh Blogger.