Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Prof Ahmad Chatib (Allah yarham) pernah bercerita beliau baru saja membeli sebuah buku dalam perjalanan di luar negeri. Kemudian beliau berpapasan di pintu dengan Gus Dur yang segera melihat buku bagus di tangan Prof Ahmad Chatib. Gus Dur bergegas ke dalam toko buku hendak membeli buku yang sama, tapi ternyata itu stok buku terakhir yang ada. Gus Dur kemudian cepat-cepat mengejar Prof Ahmad Chatib dan meminta beliau untuk meminjamkan buku tersebut.

Prof Ahmad Chatib, yang menceritakan kisah ini di kelas mata kuliah Filsafat Hukum Islam tahun 1994 di IAIN Jakarta, berkata: "terpaksa saya sodorkan buku itu kepada Gus Dur yang ingin sekali membaca buku tersebut". Selang beberapa lama setiap bertemu di Jakarta, Prof Ahmad Chatib selalu menanyakan nasib bukunya yang dipinjam Gus Dur itu. Akhirnya Gus Dur mengembalikan buku itu. Prof Ahmad Chatib terkejut setelah membukanya, "wah buku saya sudah penuh dengan catatan Gus Dur di sana-sini". Rupanya begitulah kesungguhan Gus Dur dalam menelaah sebuah kitab: sampai buku pinjaman pun dicoret-coreti.

Kisah kedua yang hendak saya ceritakan ini mengenai Kiai Abbas dari Buntet Pesantren. Saat Abah saya hendak mengaji kepada Kiai Abbas dengan membawa kitab Jam'ul Jawami', Kiai Abbas mengaku belum terlalu menguasai kitab itu, dan meminta Abah saya datang kembali membawa kitab tersebut beberapa hari ke depan. Rupanya Kiai Abbas menyimak dulu isi kitab ushul al-fiqh karya Imam al-Subki tersebut, dan kemudian setelah itu Abah saya dipanggil kembali dan Kiai Abbas dengan lancar mengajarkan isi kitab tersebut.

Dua kisah di atas saya ceritakan untuk menunjukkan kesungguhan para Kiai itu menuntut ilmu. Para Kiai itu membaca, menyimak dan memberi catatan isi kitab. Mereka menjadi alim bukan terjadi begitu saja. Sengaja diambil kisah dua kiai, yaitu KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Kiai Abbas. Kedua tokoh hebat pada masanya masing-masing ini lebih sering dibahas karomah beliau berdua ketimbang dikisahkan kesungguhan beliau berdua belajar menuntut ilmu.

Kiai Abbas, menurut penuturan Abah saya yang menjadi santri khususnya, sangat menguasai ushul al-fiqh dan ilmu fiqh perbandingan mazhab. Pengakuan Abah: "kuliah saya di al-Azhar Cairo terasa mudah dengan bekal ilmu yang sudah diajarkan Kiai Abbas". Yang terkenal kemana-mana itu adalah peristiwa heroik 10 November dimana Kiai Abbas merontokkan pesawat sekutu dengan lemparan biji tasbih dan bakiaknya. Tentu saja Abah saya juga menceritakan berbagai karomah gurunya ini, namun setiap saya tanya apa wiridnya, Abah cuma berpesan: "belajar yang rajin saja Nak, belum waktunya membaca wirid macam-macam, nanti kalau kamu sudah jadi Kiai, kamu akan mengerti sendiri hal-hal gaib dan ajaib yang kamu tanyakan itu. Sekarang baca buku lagi!"

Dan kini kalau saya ceritakan kepada para santri bahwa saya meraih dua gelar PhD di dua bidang berbeda, di dua negara berbeda, dan saya selesaikan pada waktu yang bersamaan, spontan yang mereka tanya: "wiridnya apa sehingga bisa seperti itu?" Jarang yang tertarik bertanya bagaimana kesungguhan saya belajar sehingga bisa menyelesaikan dua program PhD tersebut. Lebih menarik bertanya doa dan wiridnya. Mungkin disangkanya lebih mudah wiridan ketimbang membaca buku.

Pesantren itu sejatinya lembaga pendidikan, bukan semata tempat orang belajar mistik apalagi klenik. Ini yang harus ditegaskan karena banyak kesalahpahaman. Selain kesannya ndeso, pesantren itu dikesankan tempat untuk belajar ilmu gaib. Orang tua menjadi takut mengirim anaknya ke pondok. Pulang dari pondok hobinya nanti menangkap jin. Sementara para santri ada sebagian yang bukannya belajar dengan tekun tapi malah sibuk mau jadi waliyullah dengan berharap mendapat ilmu laduni. Bahwa Gus Dur dan Kiai Abbas memiliki karomah, tentu kita yakini itu. Tetapi karomah itu hanya bonus saja, hasil dari istiqamah para kiai yang luar biasa. Istiqamah menuntut ilmu dengan terus rajin belajar, membaca, berdiskusi, dan menulis --ini yang harus kita warisi dari para masyayikh dan guru-guru kita.

Ceritakanlah kepada khalayak bagaimana Mbah Sahal Mahfud membaca dengan tekun dan karenanya menulis berbagai kitab yang luar biasa. Di ruang tamu beliau berjejer kitab fiqh dari mazhab selain mazhab Syafi'i. Kitab dari mazhab Syafi'i malah ditaruh di bagian belakang. "Kenapa?" tanya Prof Martin van Bruinessen. Jawab Mbah Sahal kalem, "karena kitab dari mazhab Syafi'i sudah saya hafal semua."

Kisahkanlah di medsos bagaimana Kiai Ihsan Jampes mengarang kitab yang kemudian dijadikan rujukan di manca negara. Atau tolong mintakan kepada KH Ahmad Mustofa Bisri untuk berkenan bercerita proses kreatif beliau sehingga tercipta berbagai tulisan dan barisan puisi yang menyentuh jiwa dan mengundang kita untuk merenunginya.

Jikalau ini yang kita ceritakan, tidak semata soal karomah para Kiai, baru kemudian umat akan memahami bahwa pesantren itu juga gudangnya dunia ilmu pengetahuan. Dan mereka akan lebih apresiatif saat mengetahui bahwa zikir dan pikir telah menjadi satu tarikan nafas keseharian para Kiai.

Tabik,

Nadirsyah Hosen



Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Kloter pertama jamaah haji Indonesia sudah diberangkatkan. Artinya, musim haji sudah di depan mata. Maulana Habib Luthfi pernah mengatakan bahwa kita harus niat melaksanakan ibadah haji setiap tahunnya ketika kita belum melaksanakan ibadah haji.

Adapun kang Olib, menuliskan pesan beberapa orang yang beliau hormati ketika dulu beliau mau berangkat Haji, yaitu:

1.KH.Masduki Ali (Kakek):
"Perbanyak ibadah Thowaf,sebab muter-muter (Thowaf) dan dihitung IBADAH ya cuma ada di Masjidil Haram Mekah."

2.Amy (Paman) Abah Thohir bin Yahya:
"Usahakan ketika di Mekah atau Madinah Untuk Berpuasa walau satu hari,Karena pahala disana berlipat,juga melaksanakan Qodlo Sholat (untuk 'melengkapi' sholat yang telah lampau),dan Bershodaqoh".

3.Amy Abah Usman bin Yahya:
"Tanah Haram adalah tanah Suci (Istilah),makanya saya disana tidak pernah pakai sandal,ya karena Suci (makna lafadz)".

4.Amy Abah Thoha bin Yahya:
"Saya kalau sedang disana,saya memperbanyak Umroh dan Bersholawat,tidak berapa kali atau berapa,saya bahkan tidak menghitungnya, pokoknya Sekuat tenaga saya!.

5.Abah Muh (Habib Muhammad bin Yahya Jagasatru)
" Jangan pernah menyombongkan diri sedikitpun,karena disana tempat Mulia dan banyak manusia (Makhluk) Istimewa".

6.KH.Mustahdi Winong:
"Menyentuh wanita disana (ketika Thowaf) jika tidak diniati atau tidak disengaja, tidak membatalkan Wudlu."

7.Ibuku ( Mi Hj.Himayyah Masduki)
"Setelah melaksanakan Haji dan Umroh wajib,serta selesai melaksanakan beberapa Umroh Sunnah,saya mengUmrohkan(Umroh Badal/pengganti-Umroh yg pahalanya untuk orang lain)saudara dan orang tua(juga kakek-nenek) yg telah meninggal dunia".

8.Abah Hud bin Yahya.
"Perbanyak berdo'a setelah Asyar,sampai Sebelum Maghrib,Itu waktu Mustajabah,apalagi jika sedang berada di Mekkah".

Tambahan dari Abah: "Kalau belanja,jangan di Mekkah saja,Kasihan Orang yang Jualan di Madinah (juga sebaliknya). ***bagi-bagi rezeki"

Alkisah seorang ulama kharismatik di daerahnya—sebut saja Kiai Iman—membeli sebuah mobil mewah seharga hampir 500 juta rupiah. Padahal, di rumahnya sudah ada mobil yang juga cukup mahal, kira-kira 200-an juta rupiah. Dipakailah mobil mewat itu untuk mudik Lebaran sebagaimana lazimnya para perantau.

Suatu ketika seorang tamu datang ke kediaman Kiai Iman untuk bersilaturahim dan halal bihahal dengannya. Melihat dua mobil mewah terparkir di depan rumah, si tamu pun tak betah menahan tanya.

"Mohon maaf, Kiai, itu mobil mewah punya Kiai?

"Ya, itu mobil saya. Kenapa? Tanya balik Kiai Iman.

"Enggak apa-apa, Kiai. Ngomong-ngomong harganya berapa, kok keren banget?” Si tamu makin kepo.

Kiai pun menjawab, "Ah itu mobil murah, cuma 475 juta.”

Mendengar jawaban sang kiai tamu pun tercengang. Mungkin benaknya memberontak, tak percaya dengan apa yang dilihatnya: mana mungkin seorang kiai yang kesibukanya mengajar di pesantren mampu membeli mobil dengan harga fantastis?

Entah apa yang dipikirkan, si tamu tiba-tiba memberanikan diri untuk menegur sang kiai. "Mohon maaf, Kiai, Anda ini seorang kiai kenapa Anda mengajarkan kepada santri untuk cinta dengan duniawi?”
"Kok bisa?” Sahut Kiai Iman.

"Ya jelas, karena Kiai membeli mobil mewah, padahal sudah punya mobil mahal.”

"Kalau orang melihat saya beli mobil, lalu mereka ingin seperti saya, kenapa kalau saya shalat malam orang tidak ingin seperti saya. Kalau saya zikir malam kenapa mereka tak ingin seperti saya. Kalau saya berbuat baik kenapa orang tak ingin berbuat baik seperti saya.”

Mendengar jawaban sang kiai, si tamu pun terdiam. Tampak merenung dengan apa yang disampaikan oleh Kiai Iman. Ia pun seperti sadar bahwa dirinya terkena wabah iri terhadap hal-hal duniawi bukan iri terhadap hal-hal ukhrawi. 

Cinta dunia sesungguhnya tak diukur dari seberapa besar harta yang dimiliki. Zuhud seseorang bergantung pada sikap batinnya. Seseorang yang memiliki kecenderungan hati pada kesenangan duniawi, meski tampak tak punya harta sama sekali, itu sudah masuk cinta dunia (hubbud dunya).

Oleh :Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya (Rais Am Jam'iyah Ahlith Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah)

Sering kita dengar banyak orang yang salah dalam memahami arti bela negara. Kebanyakan mereka mengasumsikan bela negara dengan kewajiban militer. Rakyat diorganisir, dilatih, diberi seragam dan dipersiapkan untuk berperang melawan bangsa lain.

Bela negara masih diidentikan dengan tentara dan perang. Atau bela negara diartikan hanya sebatas melawan musuh, menjaga batas territorial, dan mewujudkan keamanan dan keselamatan seluruh warga negara saja. Pemahaman seperti itu tidak sepenuhnya salah. Memang itu juga bagian dari bela negara, atau bela negara dalam arti sempit.

Padahal arti bela negara itu sendiri sangat luas. Membangun ekonomi nasional itu termasuk bela negara. Memberantas narkoba juga bagian dari bela negara, karena narkoba merusak otak dan syaraf generasi muda, anak-anak bangsa. Bagaimana generasi yang akan datang bisa membangun negara kalau mereka dirusak mental dan otaknya.

Kita mencintai hasil karya produksi dalam negeri, hasil karya bumi pertiwi, kita tingkatkan buah-buahan Indonesia supaya setaraf dengan buah-buahan dari luar negeri, kita punya kefanatikan tidak memberikan income kepada orang lain, tapi kami berikan kepada saudara kami sebangsa terlebih dahulu, itu juga bagian dari bela Negara. Sangat luas.

Tidak harus dengan sesama Muslim, saling membantu dengan non-Muslim pun kita termasuk bela negara. Yang non-Muslim, meski mereka beda agama, tapi tetap saudara sebangsa dan setanah air. Kalau mereka sesama Muslim, berarti mereka saudara kita: saudara seagama, sebangsa dan setanah air.

Mereka –saudara yang non-Muslim- kalau sakit, kami pun berusaha merasakan itu sakit, karena mereka saudara sebangsa setanah air kami.

Nah, bagaimana kita menguntungkan perdagangan sebangsa setanah air kita dulu. Untuk apa, ya untuk negara dan bangsa ini. Kalau kita berpikir mengutamakan beli dari Malaysia dulu karena di sana mayoritas Muslim, oke. Tapi berilah keuntungan negara kami terlebih dahulu.

Meninggalkan korupsi termasuk bela negara. Dengan meninggalkan korupsi, kita sudah membantu masyarakat dan bangsa dalam meningkatkan kualitas kehidupan. Bela negara juga dapat dilakukan degan cara melindungi warga dari berbagai model pemikiran dan pemahaman yang menyebabkan timbulnya perpecahan, disintegrasi, pengkafiran dan pelanggaran terhadap hak orang lain. Sebab pemikiran yang melenceng punya kecenderungan untuk melakukan pengrusakan, penumpahan darah, perampasan harta dan merendahkan harkat kehormatan manusia yang lain.

Pemikiran dan pemahaman yang melenceng ini tidak kalah bahayanya dibandingkan dengan tentara asing yang merebut tanah air kita.

Arti bela negara memang sangatlah luas. Termasuk para kiai mendidik para santri untuk mempersiapkan mental generasi mendatang, para ulama tarekat melestarikan ajaran salafus shalih di tengah masyarakat, semua termasuk ke dalam bingkai bela negara. Pokoknya apa saja yang bernilai sumbangsih dalam membangun dan mengokohkan negara ini, termasuk bagian dari bela negara. Dan ini hukumnya wajib bagi setiap kita sebagai anak bangsa.

Jangan diragukan lagi nasionalisme para ulama. Mereka, terlebih ulama tarekat, sudah sangat jelas keberpihakannya pada negara ini. Bahwa mereka para ulama, para habaib, para mursyid, para kiai, secara lahir batin mencintai negara ini dengan setulus hati. Bukti-bukti sejarah tidak bisa dibantah lagi. Mereka tidak pernah bughat (memberontak). Justru mereka rela berkorban untuk negeri ini.

Bahkan diakui oleh Belanda, salah satu pilar utama kekuatan bangsa ini sehingga sulit ditaklukkan sepenuhnya adalah karena kuatnya ngaruh ulama tarekat di tengah masyarakat.

Perang besar di Surabaya pada 10 November 1945 - insya Allah - tidak akan terjadi sedahsyat itu dan rakyat tidak akan berani senekad itu, kalau tidak ada semangat perjuangan yang dikobarkan oleh para uiama lebih-lebih para ulama tarekat.

Para ulama yang memberi gemblengan batin untuk berani mati syahid adalah para pengamal tarekat Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Kiai subchi Parakan yang ahli suwuk bambu runcing, Pangeran Diponegoro, adalah para pengamal tarekat. Bahkan Pangeran Diponegoro adalah seorang mursyid tarekat.

Kesetiaan para ulama tarekat pada Negara Kesatuan Republik Indonesia ini di era sekarang juga dapat dilihat dari keputusan mereka yang dikenal dengan Sembilan Konsensus Ulama Thariqah yang diputuskan di Pekalongan pada 16 Januari lalu. Betapa mereka sangat mencintai negeri ini.

Pada keputusan keempat misalnya, mereka meyakinl bahwa bela negara merupakan suatu kewajiban seluruh elemen bangsa sebagaimana dijelaskan al-Quran dan al- Hadits. Sedangkan keputusan ketujuh, mereka menolak adanya terorisme, radikalisme dan ekstremisme yang mengatasnamakan agama.

Para ulama tarekat menyadari, aksi terorisme, radikalisme dan ekstremisme yang mengatasnamakan agama, selain berpangkal pada keyakinan yang salah pada ajaran agama itu sendiri, seringkali juga disebabkan dari kepentingan dan hawa nafsu pribadi ataupun pimpinan kelompok mereka. Padahal ajaran agama itu sendiri adalah santun dan membawa kedamaian bagi umat dan alam semesta.

Pentingnya tanah air, dalam pandangan ulama tarekat, dapat kita lihat dari syair Iraq yang dibacakan oleh Habib Ali al-Bahar seusai pembacaan konsensus. "Kalau kita kehilangan emas, kita bisa mendapatkannya kembali di pasar emas. Kalau kita kehilangan kekasih, tahun depan kita bisa bertemu kekasih kembali. Tapi kalau kita kehilangan tanah air, di mana kita bisa mendapatkannya?"

Itulah sikap kita para ulama tarekat. Sampai kapan pun akan tetap setia kepada tanah air kita. Karena dengan adanya tanah air yang merdeka, kita bisa beribadah dengan bebas. Di atas tanah air ini pula kita dapat melakukan dakwah dan mengamalkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama'ah dengan damai. Kita benar-benar mencintai tanah air dan bangsa kita ini. Kalau ada pihak-pihak lain yang merugikan bangsa ini, tentu kita tidak akan tinggal diam.

Baru-baru ini, seorang peneliti dari Jurnal OASIS, Italia, ingin menulis tentang Islam di Indonesia. Pertanyaan mendasar yang diajukan kepada saya: Apa yang secara mendasarkan, yang membedakan antara ekspresi keberislaman di Timur-Tengah dan Indonesia?

Apa sebenarnya yang diajarkan di pesantren-pesantren, sehingga Islam di Indonesia lebih toleran dan lebih ramah dari pada Islam di Timur-Tengah?

Terus-terang, saya sangat senang, karena Islam di negeri ini mulai diapresiasi oleh Barat. Di tengah kebencian yang membuncah terhadap Islam, khususnya jika melihat kampanye Donald Trump yang tidak bersahabat dengan Islam.

Saya percaya, pada ranah akademis sebenarnya studi keislaman mengalami perkembangan yang sangat signifikan, bersamaan dengan munculnya studi keislaman yang makin beragam.

Sementara pada ranah politis, Islam masih kerap dianggap sebagai momok yang menakutkan akibat mencuatnya Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Kembali kepada pertanyaan peneliti tadi, saya menjawab, bahwa para ulama di masa lalu telah merumuskan paradigma keislaman yang sangat sempurna. KH. Hasyim Asy’ari merumuskan konsep keislaman yang kemudian dijadikan pedoman oleh Nahdlatul Ulama.

Dalam ranah teologi, NU menganut teologi moderasi ala Imam Asy’ari dan Imam al-Maturidi. Dalam ranah hukum, NU menganut empat mazhab kaum Sunni, yaitu Imam Syafi’, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Sementara dalam ranah tasawuf, NU merujuk pada Imam al-Ghazali dan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

Saya tegaskan kepada peneliti tadi, rumusan ini telah menjadikan umat Islam di Indonesia, khususnya NU berada pada jalur moderasi, karena semua ranah dipelajari dengan baik dan menggunakan rujukan yang bersifat otoritatif.

Karena itu pula, kalau mau jujur, yang berhak mendapatkan label Islam Kaffah sebenarnya NU, bukan kelompok lain yang selama ini mengaku dirinya paling benar atau paling Islam.

Meskipun demikian, saya tegaskan bahwa para santri di pesantren diajarkan agar senantiasa mempunyai kearifan dan kedewasaan dalam beragama.

Seperti para ulama di dalam kitab-kitab kuning, selalu mengakhiri pendapatnya dengan ungkapan, Wallahu a’lam bi al-shawab (hanya Tuhan yang Mahabenar).

Sepanjang wawancara, peneliti asal Italia tadi sangat terkesima dengan penjelasan saya. Ia meminta agar pemikiran keislaman ala NU tersebut dapat disebarluaskan ke Timur-Tengah dan Barat, khususnya Eropa yang belakangan ini mengalami pertumbuhan kaum Muslim yang sangat signifikan.

Saya juga menegaskan, bahwa sebenarnya NU saat ini sedang gencar mengampanyekan paradigma Islam Nusantara ke dunia internasional. Yaitu Islam yang ramah dan toleran terhadap keragaman, serta menghargai tradisi lokal.

Lalu ia penasaran bertanya lagi, “Apa itu Islam Nusantara?”

Sebagaimana disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj dalam pembukaan Muktamar NU ke-33 di Jombang, ada beberapa karakteristik dari Islam Nusantara: Pertama, semangat keagamaan (al-ruh al-diniyyah). Semangat keagamaan yang dimaksudkan bukan untuk mengedepankan formalisasi agama, melainkan mengutamakan akhlaqul karimah.

Ini sejalan dengan misi utama kedatangan Nabi Muhammadiyah yang membawa misi untuk menyempurnakan akhlaqul karimah.

Kedua, semangat kebangsaan (al-ruh al-wathaniyyah). Setiap umat Islam di negeri ini hendaknya mempunyai nasionalisme, cinta Tanah Air.

Hal tersebut sudah terbukti dalam sejarah pra-kemerdekaan, para ulama bersama para pendiri bangsa yang lain saling-bahu membahu untuk mewujudkan kemerdekaan dan bersama-sama untuk melahirkan Pancasila sebagai falsafah bernegara. Bahkan, para ulama menegaskan Pancasila sebagai dasar negara sudah bersifat final.

Ketiga, semangat kebhinnekaan (al-ruh al-ta’addudiyyah). Setiap umat Islam harus mengenali dan menerima keragaman budaya, agama dan bahasa.

Tuhan pasti bisa jika hendak menjadikan makhluk-Nya seragam, tetapi Tuhan sudah memilih untuk menciptakan makhluk-Nya beragam agar diantara mereka saling mengenali, menghormati, serta merayakan kebhinnekaan.

Keempat, semangat kemanusiaan (al-ruh al-insaniyyah). Setiap umat Islam hendaknya mampu menjadi prinsip kemanusiaan sebagai pijakan utamanya. Persaudaraan kemanusiaan harus diutamakan dalam rangka menjaga tatanan sosial yang damai dan harmonis.

Islam pada hakikatnya adalah agama yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Sebagai umat Islam, kita harus bangga bahwa Islam yang berkembang di negeri ini sudah teruji mampu membangun kebersamaan sebagai bangsa, bahkan terlibat langsung dalam perjuangan kemerdekaan.

Bahkan, di tengah perkembangan wacana modern seperti demokrasi, pluralisme, jender dan hak asasi manusia, kelompok Muslim mampu beradaptasi dengan baik.

Di kalangan NU sendiri, mampu mentransformasikan wacana modern tersebut dengan terma-terma pesantren. Demokrasi menjadi fiqh al-syura, pluralisme menjadi fiqh al-‘addudiyyah, jender menjadi fiqh al-nisa, dan hak asasi manusia menjadi fiqh huquq al-insan.

Diskursus Islam Nusantara semakin kokoh melalui sebuah kaidah yang sangat populer di kalangan pesantren, “mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru/kemodernan yang lebih baik” (al-muhafadhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah).

Sebagai warga dan kader NU, saya selalu merasa nyaman dengan rumusan keberisalaman yang sudah digariskan oleh para ulama terdahulu, khususnya Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dan rumusan Islam Nusantara para ulama saat ini.

Saya tidak perlu lagi mencari paham keislaman dari luar, yang kerapkali menganggap dirinya paling sempurna (kaffah), padahal mereka hanya menggunakan agama sebagai kepentingan politik kekuasaan.

Kita perlu merawat dan mengembangkan wacana Islam Nusantara ini. Salah satunya memastikan bahwa kita mampu menjaga keragaman, baik dalam intra agama maupun antar agama.

Sebab itu, NU akan selalu menggaungkan pentingnya toleransi untuk menjadikan keragaman sebagai rahmat, bukan laknat.

Akhir-akhir ini banyak sekali berita, baik melalui media TV, radio, koran, dan yang tak kalah adalah media Sosial memberitakan mengenai tragedi, entah mengenai kemanusiaan hingga pada tingkat gagalnya pemahaman. semua yang membaca ataupun yang memberitakan kebanyakan mengecam dan menyudutkan satu-dua oknum tertentu. dari per-orangan hingga ormas yang ada.

Sedikit sekali yang berusaha berfikir kenapa semua itu terjadi? kalau kita belajar ushul fiqh (hukum) apa 'illat-nya atau saba-musababnya. kalau dalam dunia tasawuf apa yang melatarbelakangi kejadian semua ini? lantas orang yang pemahaman agamanya kurang akan mengatakan "semua sudah digariskan tuhan" atau dengan gaya berdalih dengan ayat al-Qur'an "segala sesuatunya sudah ditakdirkan Allah".

coba di sini, mari kita berfikir sejernih mungkin apa sebab semuanya terjadi? inilah kurang dan mengesampingkan orang untuk bertafakkur (berfikir) padahal kalau kita merujuk pada al-Qu'ran anjuran untuk berfikir sama dengan anjuran untuk berdzikir. seperti halnya yang pernah Gus Mus katakan dalam sebuah acara di TV.

Menganalisa kerusakan sekarang-sekarang ini, sebagai generasi bangsa kita ini sangat kekeringan dalam tiga hal, atau diantara ketiganya ada yang kurang. yaitu mengenai Intelektual, Spritual, dan Emosional dalam diri kita. Nabi pernah menganjurkan kepada kita untuk dibagi sepertiga-nya. untuk makan, minum, dan bernafas. nah disinilah peran penting untuk melatih semuanya. khusus untuk umat Oslam dan umumnya warga negara republik Indonesia mari perkuat NKRI atau agama Islam kita dengan mengisi ketiga unsur di atas.

pertama intelektual, untuk menambah wawasan ke-intelektual-an kita harus banyak membaca dan belajar mengenai pengetahuan, jangan pernah anda batasi, akan teapi, yang paling terpenting adalah bagaimana kita harus memiliki filter atau penyaring untuk mengolah pengetahuan itu menjadi perilaku yang bijaksana, baik dan berbudi. maka tak bisa disanggah untuk menembus itu semua dibutuhkan kekuatan baru yang dinamakan Spritual.

kedua Spritual, mengenai Spritual ini warga NU sudah sangat paham menganai manfaat dan berkah dari aurod, hizib, atau Do'a. atau dengan kata lain kita harus banyak melakukan rihlah ilahiah atau perjalan menuju Tuhan. banyak cara yaitu melalui ziarah ke sesepuh baik yang masih hidup atau yang sudah menghadap ilahi. ini yang akan menumbuhkan rohani kita sejuk, dan damai. karena Nabi bersabda "tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali Do'a". begitupun dengan memperbanyak dzikir atau berdo'a minimal kita sebagai hamba manusia akan mengurangi sifat kesombongan yang sifat itu adalah hak mutlak Tuhan.

ketiga adalah emosional, ilmu ini yang sulit kita dapatkan, atau minimal tentang kesadaran diri kita. kita ingat dan contoh yang sangat ringan waktu kecil, dulu kita sering bercanda bersama teman kita " jangan mencubit ya kalau tidak mau dicubit atau gimana rasanya dicubit, sakitkan?" pertanyaan dan jawaban itu yang dengan pelan-pelan mengajarkan kita agar saling menjaga, tidak saling menyakiti, dan terus berlaku baik. atau kalau benar-benar kita ingin mengasah emosional kita, sering-seringlah berkunjung kerumah sakit, warga miskin, tempat sampah, dan orang-orang yang hidupnya dibawah kita.

kejadian-kejadian aneh dinegeri tidak lain adalah karena ketiga unsur tersebut sangat kering. kita sering dibatasi dalam menambah wawasan, dan dari ke-terbatasan itu kita mengatakn itu sudah mutlak kebenaran dan keabsahannya. kita sangat jarang jejagongan atau i'tikaf khusyu' berdoa dan berziara, tiba-tiba mengaku kitalah yang paling dekat dengan tuhan. selanjutnya terakhir kita jarang sekali mengobati dan tidak ingin disakiti, tapi setiap waktu kita menebar benih penyakit dan kebencian.

semoga dari ulasan ini mari berbenah dan menjaga keutuhan NKRI dengan membangun kesadaran intelektual, Spritual, dan Emosional.


Penulis : Jamaluddin Al-athar

(Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan Menteri Keagamaan DEMA IAIN Syekh Nurjati 2015-2016.)

Kontak: 085797212299
Diberdayakan oleh Blogger.