Tampilkan postingan dengan label Headline. Tampilkan semua postingan

Para ulama khas Nahdlatul Ulama mengadakan silaturahim di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Kabupaten Rembang Jawa Tengah pada Kamis (16/3). Silaturahim tersebut membuah hasil dengan nama "Risalah Sarang". Berikut isinya: 

الرَّحِيمِ الرَّحْمَنِ اللَّهِ بِسْمِ


أُدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
(النحل: ١٢٥)

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An-Nahl: 125)

لِلْعَالَمِينَ رَحْمَةً إِلَّا أَرْسَلْنَاكَ وَمَا
(١٠٧:الأنبياء)

“Kami (Allah) tidak mengutus engkau (Muhammad) kecuali sebagai pembawa rahmat bagi semesta” (QS. Al-Anbiya`: 107)


مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
(الحشر: ٧)

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (Al-Hasyr: 7)




يٰۤاَيُّهَا الَّذِينَ اٰمَنُوا اِن جَاءَكُم فَاسِقٌ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوا اَن تُصِيبُوا قَومًا بِجَهَالَةٍ فَتُصبِحُوا عَلٰى مَا فَعَلتُم نٰدِمِينَ (الحجرات: ٦) ‏




Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Al –Hujurat: 6)


لاَخَيْر فِي كَثِيْرٍ مِنْ نَجْوَاهُم إلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوْفٍ أًوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّأسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ إِبْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللهِ فَسَوْفَ نُوْتِيْهِ أَجْرا عَظِيْما
(النساء: ١١٤)
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahalanya yang besar.
(An Nisa: 114)


امُيَسِّرً مُعَلِّمًا بَعَثَنِي وَلَكِنْ ، مُتَعَنِّتًا وَلا مُعَنِّتًا يَبْعَثْنِي لَمْ اللَّهَ إِنَّ
(رواه مسلم)


“Sesungguhnya Allah tidak mengutusku (Muhammad) sebagai orang yang mempersulit atau memperberat para hamba. Akan tetapi Allah mengutusku sebagai pengajar yang memudahkan (HR. Muslim).

الْأَخْلَاقِ مَكَارِمَ لِأُتَمِّمَ بُعِثْتُ إِنَّمَا
(رواه بيهقي)

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia” (HR. Al-Baihaqi)

السَّمَاءِ فِي مَنْ يَرْحَمْكُمْ الْأَرْضِ فِي مَنْ ارْحَمُوا الرَّحْمن يَرْحَمُهُمْ الرَّاحِمُونَ
(رواه الترمذي)

“Orang-orang yang menyayangi sesama, Sang Maha Penyayang menyayangi mereka. Sayangilah semua penduduk bumi niscaya penduduk langit akan menyayangimu” (HR. At-Tirmidzi)


فَاالتَّفَرُقُ سَبَبُ الضُعْفِ وَالجِذْلاَنِ وَالفَصْلِ فِي جَمِيْعِ الأَزْماَنِ. بَلْ هُوَ مَجْلَبَةُ الفَسَادِ وَمَطِيَّةُ الكَسَادِ وَدَعِيَّةُ الخَرَبِ والدِّمَارِ، وَدَاهِيَةُ العَارِ وَالسَّتَّارِ.
فَكَمْ مِنْ عَا ئِلاَتٍ كَبِيْرَةٍ كَانَتْ فِي رَغَدٍ مِنَ الغَيْشِ وَبُيُوْتٍ كَثِيْرَةٍ كَانَتْ أهِلَةً بِأَهْلِهَا حَتَّى إِذَا دَبَّتْ فِيْهِم عَقَارِبُ التَّنَزُعِ وَسَرَى سُمُّهَا فِي قُلُوْبِهِم، وَأَخَذَ مِنْهُمُ الشَيْطَانُ مَأْخَذَهُ تَفَرَّقُوْا شَذَرَ مَذَرَ فَأَصْبَحَتْ بُيُوْتَهُمْ خَاوِيَةً عَلَى عُرُوْسِهَا
(الرئيس الأكبر لجمعية نهضة العلماء الشيج العالم العلامة محمد هاشم أشعري, مقدمة القانون الأساسي لجمعية نهضة العلماء)


Perpecahan adalah penyebab kelemahan, kekalahan dan kegagalan di sepanjang zaman. Bahkan pangkal kehancuran dan kemacetan, sumber keruntuhan dan kebinasaan, dan penyebab kehinaan dan kenistaan. Betapa banyak keluarga keluarga besar, semula hidup dalam keadaan makmur, rumah-rumah penuh dengan penghuni, sampai satu ketika kalajengking perpecahan merayapi mereka, bisanya menjalar meracuni hati mereka dan syaithan pun melakukan perannya, mereka kocar-kacir tak karuan. Dan rumah-rumah mereka runtuh berantakan. (Rais Akbar Jamiyah Nahdlatul Ulama Hadlratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, Muqaddimah Qanun Asasi)


Bismillahirrahmanirrahim

1. Nahdlatul Ulama senantiasa mengawal Pancasila dan NKRI serta keberadaannya tidak dapat bisa dipisahkan dari keberadaan NKRI itu sendiri. Nahdlatul Ulama mengajak seluruh ummat islam dan bangsa Indonesia untuk senantiasa mengedepankan pemeliharaan negara dengan menjaga sikap moderat dan bijaksana dalam menanggapi berbagai masalah. Toleransi, demokrasi dan terwujudnya akhlakul karimah dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat harus terus diperjuangkan bukan hanya demi keselamatan dan harmoni kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat di Indonesia ini saja, tetapi juga sebagai inspirasi bagi dunia menuju solusi masalah-masalah peradaban yang dihadapi dewasa ini.

2. Lemahnya penegakan hukum dan kesenjangan ekonomi merupakan sumber-sumber utama kegelisahan masyarakat selain masalah-masalah sosial seperti budaya korupsi, rendahnya mutu pendidikan dan sumberdaya manusia, meningkatnya kekerasan dan kemerosotan moral secara umum. Pemerintah diimbau agar menjalankan kebijakan-kebijakan yang lebih efektif untuk mengatasi masalah-masalah tersebut termasuk dengan menerapkan kebijakan-kebijakan yang lebih berpihak kepada yang lemah (affirmatif) seperti reformasi agraria, pajak progresif, pengembangan strategi pembangunan ekonomi yang lebih menjamin pemerataan serta pembangunan hukum ke arah penegakkan hukum yang lebih tegas dan adil dengan tetap menjaga prinsip praduga tak bersalah dalam berbagai kasus yang muncul. Penyelenggaraan negara oleh pemerintah dan unsur-unsur lainnya harus senantiasa selaras dengan tujuan mewujudkan maslahat bagi seluruh rakyat (tasharraful imam manutun bi maslahatirroiyyah).

3. Perkembangan teknologi informasi, termasuk internet dan media-media sosial, serta peningkatan penggunaannya oleh masyarakat membawa berbagai manfaat seperti sebagai sarana silaturahmi nasrul ilmi taawwun alal birri dan sebagainya, tetapi juga mendatangkan dampak-dampak negatif seperti cepatnya penyebaran fitnah dan seruan seruan kebencian, propaganda radikalisme, pornografi, dan halhal lain yang dapat merusak moral dan kerukunan masyarakat. Pemerintah diimbau untuk mengambil langkah-langkah yang lebih efektif baik dalam mengatasi dampak-dampak negatif tersebut maupun pencegahanpencegahannya. Pada saat yang sama para pemimpin masyarakat dihimbau untuk terus membina dan mendidik masyarakat agar mampu menyikapi informasiinformasi yang tersebar secara lebih cerdas dan bijaksana sehingga terhindar dari dampak-dampak negatif tersebut.

4. Para pemimpin negara, pemimpin masyarakat, temasuk pemimpin Nahdlatul Ulama agar senantiasa menjaga kepercayaan masyarakat dengan senantiasa arif dan bijaksana dalam menjalankan tugas masing-masing dengan penuh tanggung jawab adil dan amanah dengan menomorsatukan kemaslahatan masyarakat dan NKRI.

5. Para ulama dalam majlis ini mengusulkan diselenggarakannya forum silaturrahmi di antara seluruh elemen-elemen bangsa untuk mencari solusi berbagai permasalahan yang ada, mencari langkah-langkah antisipatif terhadap kecenderungan-kecenderungan perkembangan di masa depan serta rekonsiliasi diantara sesama saudara sebangsa. Nahdlatul Ulama diminta untuk mengambil inisiatif bagi terwujudnya forum tersebut.




والله الموفق إلى أقوم الطريق




Sarang, 16 Maret 2017

Sumber: NU Online

Syahdan, suatu masa hidup seorang muda pada zaman Amirul Mukminin Harun Ar-Rasyid berkuasa. Pemuda ini berperangai buruk. Banyak perilakunya tidak menarik simpati penduduk Bashrah. Ia bukanlah pemuda idaman masyarakat. Penduduk kota tersebut kehilangan empati terhadapnya.

Karena perilakunya yang tidak terpuji dan banyaknya maksiat terang-terangan itu, ia kehilangan wibawa di tengah masyarakat. Penduduk memandang rendah kepadanya. Tak satupun anggota masyarakat yang peduli kepadanya.

Namun demikian seorang muda ini selalu tampil lebih baik saat bulan Rabi‘ul Awal tiba. Ia berdandan perlente. Ia mencuci pakaian yang dikenakannya. Ia mengenakan wangi-wangian pada pakaiannya. Rambutnya disisir dengan rapi. Ia bercermin untuk memastikan penampilannya yang terbaik.

Apakah yang dilakukan pemuda ini selanjutnya? Di luar dugaan masyarakat ia mengadakan jamuan kenduri. Di tengah jamuan itu ia meminta sejumlah penduduk untuk membacakan maulid atau sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Perjamuan kenduri semacam ini ia lakukan sepanjang usianya setiap kali bulan Rabi‘ul Awal tiba. Setiap kali bulan maulid tiba, setiap kali itu juga ia berhias, berpakaian rapi, mengenakan parfum, menyisir rambut, menjamu penduduk, dan tentu saja meminta salah satu dari mereka untuk membacakan riwayat kelahiran Rasulullah SAW.

Meski demikian, penduduk tidak mengubah pandangannya terhadap pemuda yang beralih senja. Mereka tetap memandang hina salah satu anggotanya ini. Hingga pada giliran Allah mencabut nyawanya, penduduk masih saja membencinya. Penduduk dengan enggan dan berat hati mengurus jenazahnya.

Tetapi alangkah terkejutnya penduduk Bashrah. Ketika orang ini wafat, mereka mendengar suara tanpa bentuk (hatif) yang menggema di atas langit Bashrah.

“Hai sekalian penduduk Bashrah, saksikanlah jenazah salah seorang waliyullah. Ia adalah seorang yang mulia di sisiku,” kata suara tersebut.

Penduduk Bashrah lalu berduyun-duyun menyaksikan jenazah orang tersebut. Mereka mengurus jenazah itu dengan sebaik-baiknya. Mereka menggelar upacara pemakamannya.

Dalam mimpi mereka melihat orang yang baru dimakamkan mengenakan pakaian berbahan sutra halus dan sutra tebal berlungsin emas. Mereka melihat almarhum berjalan penuh wibawa dengan pakaian indahnya.

“Dengan apa kau mendapatkan kehormatan seperti ini? tanya mereka.

“Berkat penghormatan terhadap hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW,” jawab waliyullah tersebut.

Sumber : NU Online

Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni Budaya Muslimin Nahdlatul Ulama (PP Lesbumi NU) KH Agus Sunyoto mengatakan, bahwa proklamasi kemerdekaan dimaknai sebagai kebangkitan bangsa Indonesia dan semangat kebangkitan bangsa Asia. 

Hal itu adalah tafsiran Kiai Agus pada data sejarah dan jejak pikiran Presiden Pertama Indonesia Soekarno. Menurutnya, Bung Karno paham bahwa bangsa kulit putih tidak akan rela melepaskan bangsa-bangsa kulit berwarna, terutama bangsa Indonesia untuk merdeka seutuhnya. 

Menurut Bung Karno, kutip Kiai Agus, Belanda akan mengubah model penjajahan dengan kolonialisme baru. “Kalau kolonialisme lama Belanda datang ke sini membuat pemerintahan di sini, kemudian diubah dengan penjajahan baru; Belanda, Amerika, Inggris, Asutralia, akan datang ke Indonesia cuma modalnya,” jelasnya pada “Ngaji Sejarah” yang digelar Lesbumi di Masjid An-Nahdlah lantai dasar gedung PBNU, Jakarta, Selasa malam (9/8).

Negara-negara tersebut akan membuat perusahaan multinasional. Pekerjanya yang diangkat orang Indonesia sendiri, tapi keuntunganya mengalir ke negara mereka sendiri. “Bung Karno menegaskan itu pada “Indonesia Menggugat tahun 1933”. ‘Tidak akan lama lagi, Amerika, Inggris, Belanda, Australia, Kanada, akan perang dengan Jepang untuk merebut sumber daya di Indonesa,’ begitu pledoi Bung Karno,” tambahnya. 

Ketika datang Jepang, Bung Karno dianggap kolaburator karena melakukan kerja sama dengan mereka. Memang betul dan itu tak bisa dipungkiri. Namun, ia melakukan itu karena mengenggap kerja sama dengan negara sesama Asia bisa sederajat. Sementara kerja sama dengan negara Barat sudah terbukti dianggap sebagai budak. 

Hal ini pula yang dilakukan Bung Karno saat menjadi presiden dengan membuka kerja sama dengan Tiongkok yang dikenal dengan istilah poros Jakarta-Peking. Tapi kenyataannya hal itu dianggap “kejahatan sejarah”. Bagitu juga ketika zaman pemerintahan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang melakukan hal yang sama. Juga dianggap kejahatan sehingga ia digulingkan. “Kita melihat dibalik semangat nasionalisme Indonesia ada semangat untuk Asia bangkit,” kata penulis buku “Atlas Wali Songo” ini.

Tak hanya itu, Bung Karno juga melakukan kerja sama Asia dan Afrika dengan mengadakan Konferensi Asia Afrika. Ketika terjadi perang dingin, Bung Karno menginisiasi Gerakan Non-Blok. 

“Itu kekuatan-kekuatan negara baru. Tapi kalah juga. Kebijakan Bung Karno dilanjutkan Gus Dur, tapi tidak bisa karena jumlah didikan Barat lebih banyak yang menentang. Sekarang Jokowi juga yang melalukan hubungan dengan Cina, isunya pekerja yang datang itu isinya tentara. Data dari mana? Itu tandanya jangan sampai Indonesia menjalin hubungan dengan sesama Asia,” jelasnya. 

Hal karena Indonesia dan Tiongkok adalah negara konsumen besar. Hubungan antara Asia dengan Asia akan mengganggu kepentingan negara besar seperti Amerika. “Susahnya banyak yang menjadi penguasa kita lulusan yang dididik kolonial. Mentalitas mereka adalah mentalitas kolonial. Kita harus menjadi koordinat negara lain. Dan faktanya sampai sekarang,” katanya sambil mengatakan, itulah cara pandang sejarah emik, sejarah dengan kacamata kita, bukan kacamata orag lain atau negara lain.

Pada kesempatan tersebut, Ngaji Sejarah yang dipandu pengurus Lesbumi Lodji Hadi juga dihadiri narasumber mantan Menteri Sekretaris Negara pada Kabinet Persatuan Nasional bentukan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Bondan Gunawan. Kegiatan tersebut dihadiri juga anak-anak muda NU dan beberapa pengurus lembaga dengan diakhiri pembacaan puisi dan doa oleh Abdullah Wong.

Alkisah seorang ulama kharismatik di daerahnya—sebut saja Kiai Iman—membeli sebuah mobil mewah seharga hampir 500 juta rupiah. Padahal, di rumahnya sudah ada mobil yang juga cukup mahal, kira-kira 200-an juta rupiah. Dipakailah mobil mewat itu untuk mudik Lebaran sebagaimana lazimnya para perantau.

Suatu ketika seorang tamu datang ke kediaman Kiai Iman untuk bersilaturahim dan halal bihahal dengannya. Melihat dua mobil mewah terparkir di depan rumah, si tamu pun tak betah menahan tanya.

"Mohon maaf, Kiai, itu mobil mewah punya Kiai?

"Ya, itu mobil saya. Kenapa? Tanya balik Kiai Iman.

"Enggak apa-apa, Kiai. Ngomong-ngomong harganya berapa, kok keren banget?” Si tamu makin kepo.

Kiai pun menjawab, "Ah itu mobil murah, cuma 475 juta.”

Mendengar jawaban sang kiai tamu pun tercengang. Mungkin benaknya memberontak, tak percaya dengan apa yang dilihatnya: mana mungkin seorang kiai yang kesibukanya mengajar di pesantren mampu membeli mobil dengan harga fantastis?

Entah apa yang dipikirkan, si tamu tiba-tiba memberanikan diri untuk menegur sang kiai. "Mohon maaf, Kiai, Anda ini seorang kiai kenapa Anda mengajarkan kepada santri untuk cinta dengan duniawi?”
"Kok bisa?” Sahut Kiai Iman.

"Ya jelas, karena Kiai membeli mobil mewah, padahal sudah punya mobil mahal.”

"Kalau orang melihat saya beli mobil, lalu mereka ingin seperti saya, kenapa kalau saya shalat malam orang tidak ingin seperti saya. Kalau saya zikir malam kenapa mereka tak ingin seperti saya. Kalau saya berbuat baik kenapa orang tak ingin berbuat baik seperti saya.”

Mendengar jawaban sang kiai, si tamu pun terdiam. Tampak merenung dengan apa yang disampaikan oleh Kiai Iman. Ia pun seperti sadar bahwa dirinya terkena wabah iri terhadap hal-hal duniawi bukan iri terhadap hal-hal ukhrawi. 

Cinta dunia sesungguhnya tak diukur dari seberapa besar harta yang dimiliki. Zuhud seseorang bergantung pada sikap batinnya. Seseorang yang memiliki kecenderungan hati pada kesenangan duniawi, meski tampak tak punya harta sama sekali, itu sudah masuk cinta dunia (hubbud dunya).

Dalam keluarga kecil Sayyidina Ali karramallâhu wajhah terdapat 5 orang yang tinggal serumah: Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan, Husain dan Haris. Suatu kali satu keluarga ini sudah tiga hari tidak makan. Sedangkan Fatimah, istri Ali hanya mempunyai selembar kain sarung, namun ia rela memberikannya kepada sang suami untuk kemudian dijual. Setelah kain sarung terjual seharga 6 dirham, Ali menyedekahkan uang hasil penjualan kepada orang-orang fakir.

Dalam kitab An-Nawadir dikisahkan, setelah Ali menyedekahkan 6 dirham dari hasil penjualan, ia ditemui malaikat Jibril yang menjelma manusia. Jibril datang dengan membawa unta dari surga. Jibril berkata, "Hai ayahanda Hasan, tolong anda beli unta saya ini!" 

Ali menyahut dengan segera "Wah, saya sedang tak punya apa-apa, aku tak kuat membelinya."

"Ya sudah, belilah dengan tempo saja."

"Lha engkau mau jual berapa?"

"Seratus dirham" kata Jibril yang masih dalam jelmaan manusia.

Benar, jual beli sudah pada kata sepakat. Ali menerima tali kendali sedangkan Jibril meniggalkan lokasi jual beli. 

Tanpa berselang waktu lama, Malaikat Mikail datang menghampiri. Ia juga datang menjelma sebagai orang dari penduduk pedalaman (a'rabi) dan langsung bertanya. "Hai ayah Hasan, apakah engkau akan menjual unta ini?"

"Iya."

"Berapa besar biaya saat kau membelinya?"

"Seratus dirham," jelas Ali.

"Ya sudah, saya beli saja ya? Anda saya kasih untung 60 dirham," tawar orang desa tersebut.

Setelah keduanya sepakat dengan harga 160 dirham serta Ali sudah memegang uangnya, penjual pertama lalu (Jibril yang menjelma) datang kembali ke lokasi. 

"Kau telah menjual unta tadi, Ali?" tanya Jibril.

"Iya."

"Kalau begitu, mana uang hakku?" tagih Jibril. 

Seratus dirham diberikan sebagai biaya pembelian, sedangkan Ali sekarang masih mendapat sisa uang 60 dirham. Ali pun segera pulang. Dan ketika sampai di rumah, ia ditanya Fatimah. "Dari mana kau suamiku?"
"Aku habis jual beli dengan Allah sebesar 6 dirham kemudian Allah memberikan aku 60 dirham. Pada setiap 1 dirham dibalas 10 dirham."

Lalu Ali bin Abi Thalib datang sowan kepada Rasulullah. Ia menceritakan seluruh kronologi kejadian. Dan Baginda Nabi memberikan penjelasan, "Hai Ali, penjual itu adalah Jibril, pembelinya adalah Mikail. Unta tersebut adalah kendaraan Fatimah kelak saat hari kiamat."

Nabi melanjutkan, "Hai Ali, engkau diberi tiga hal yang tak pernah diberikan kepada siapa pun. Engkau punya istri yang akan menjadi pimpinan wanita ahli surga. Engkau mempunyai dua anak laki-laki yang akan menjadi pimpinan penduduk surge, serta engkau mempunnyai mertua yang menjadi pimpinan para utusan. Bersyukurlah kepada Allah, pujalah Dia atas segala nikmat yang diberikan kepadamu.

Sumber: NU Online

Sudah sepantasnya manusia senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Bagaimana tidak, atas kebaikan-Nya kita dapat merasakan kenikmatan dan kebahagian selama hidup di dunia ini. Kenikmatan tersebut dapat berupa kesehatan, kesempatan, kehidupan, kekayaan, kelapangan, dan lain-lain. Dalam surat Ibrahim ayat 7, Allah SWT mengatakan, “Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. 

Terdapat banyak cara untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan, salah satunya ialah sujud syukur. Sujud syukur disunnahkan pada saat kita mendapati kenikmatan. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW, Sahabat Abu Bakrah mengisahkan, “Bila Rasulullah SAW mendapati kemudahan dan kabar gembira, beliau langsung tersungkur bersujud kepada Allah SWT,” (HR Ibnu Majah).

Menurut Al-Nawawi, tidak boleh bersujud kecuali ada sebab dan legalitasnya. Kendati dipersoalkan oleh sebagian ulama kebolehan sujud syukur, paling tidak hadis di atas menjadi salah satu rujukan utama dibolehkannya sujud syukur. Tentu tidak semua kondisi kita disunahkan sujud syukur, karena bagaimanapun hampir setiap detik kita merasakan nikmat yang patut kita syukuri. Dalam Taqriratus Sadidah, Hasan bin Ahmad Al-Kaf menyebutkan empat kondisi yang disunnahkan untuk sujud syukur:


Pertama: Mendapat Rezeki Nomplok


“Memperoleh nikmat yang tak terduga, baik yang tampak semisal kelahiran anak, kedatangan orang yang hilang, dan sembuh dari penyakit, atau yang tidak tampak seperti memperoleh pengetahuan bagi diri sendiri ataupun anak.”

Disunahkan sujud syukur pada saat mendapat rejeki nomplok atau dari jalan yang tak terduga. Misalnya, ketika kesulitan dan hutang menumpuk, tiba-tiba ada orang yang memberikan kita uang dengan jumlah yang sangat banyak. Pada saat itu disunahkan bagi kita untuk sujud syukur.


Kedua: Terhindar dari Bahaya


“Terhindar dari bahaya secara tiba-tiba, seperti selamat dari runtuhan (bangunan), tenggelam, dan musibah lainnya.”

Manusia tidak dapat meramalkan apa yang akan terjadi esok hari. Bisa saja dia akan mendapati nasib baik di hari esok atau nasib buruk. Demikian pula dengan musibah dan bencana, tidak ada seorang pun yang mampu menaksir waktu kejadiannya. Karenanya, saat terjadi bencana alam yang menelan korban jiwa, kemudian kita selamat dari bencana tersebut, maka disunnahkan untuk sujud syukur.


Ketiga: Melihat Penjahat atau Pelaku Maksiat


“Melihat orang fasik, baik yang tampak kefasikannya ataupun tertutup dan terus menerus melakukan dosa kecil. Disunnahkan memperlihatkan sujud syukur kepada orang yang berbuat dosa secara terang-terangan bila tidak dikhawatirkan terjadi fitnah.”

Di mana-mana hampir ditemukan orang jahat, baik di desa maupun kota. Terlebih lagi di kota besar, penjahat dan pelaku maksiat hampir ditemukan di setiap sudut. Ketika melihat orang yang melakukan maksiat, disunahkan untuk kita melakukan sujud syukur, meskipun dia melakukan dosa kecil tapi terus-menerus.

Dalam kondisi ini, dianjurkan untuk memperlihatkan sujud syukur kepadanya. Hal ini dapat dilakukan bila dikhawatirkan tidak terjadi fitnah atau gangguan lainnya.


Keempat: Melihat Orang Tertimpa Musibah


“Melihat orang tertimpa musibah, baik musibah pada tubuhnya maupun akalnya. Musibah yang dimaksud ialah tidak sempurnanya anggota tubuh dan fungsi tubuh seseorang, seperti buta dan tuli. Pada saat melihat orang cacat, tidak boleh memperlihatkan sujud syukur di hadapannya.”

Allah menciptakan sebagian makhluknya tidak sempurna secara fisik dan mental. Pada intinya, setiap manusia pasti diberikan kelebihan dan kekurangan. Pada saat mendapati orang cacat atau penyandang difabel, disunnahkan bagi kita untuk sujud syukur. Sujud syukur dilakukan sebagai bentuk terima kasih atas kelebihan dan kesempurnaan yang diberikan Tuhan. Tidak boleh melakukan sujud syukur di hadapan mereka secara langsung, karena takut menghina dan menyakiti perasaan mereka.

Demikianlah empat kondisi yang dianjurkan untuk sujud syukur. Bila menemukan salah satu dari empat kondisi tersebut segeralah sujud syukur. Tata cara pelaksaannya hampir mirip dengan sujud tilawah, artinya jumlah sujudnya hanya satu kali dan dilakukan di luar shalat. Sebelum sujud, takbirlah terlebih dahulu dan setelah itu bangun dari sujud, langsung salam. Wallahu a’lam.

Sumber: NU Online

Jandab bin Janadah, populer dengan nama Abu Dzar Al-Ghifari, termasuk sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW. Ia disebut sebagai orang yang paling baik, ramah, dan santun perangainya. ‘Ali bin Abi Thalib, sebagaimana yang dikutip Al-Mizi dalam Tahdzibul Kamal mengatakan, “Saya mendengar Rasulullah SAW berkata, ‘Setiap nabi diberikan tujuh orang (sahabat) mulia dan halus (sifat dan tabiatnya), sementara aku diberikan 14 orang yang baik lagi halus bawaannya.’” Di antara sahabat yang dimaksud Rasulullah SAW ialah Abu Dzar Al-Ghifari.

Menurut catatan sejarah, Abu Dzar pertama kali masuk Islam di Mekah, kemudian dia kembali ke kampung halamannya, dan pergi ke Madinah ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke sana. Sahabat ini meninggal pada tahun 32 hijriah, tepatnya masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan.

Semasa hidupnya, Rasulullah pernah berpesan tujuh hal kepada pemuda berkulit sawo matang ini. Wasiat ini terekam dalam kitab Bughyatul Bahits ‘an Zawaid Musnad Harits karya Ibnu Abi Usamah (w 282 H). Arti & isinya, kurang lebih sebagai berikut ini:

“Karibku (Nabi Muhammad SAW) mewasiatkan tujuh hal kepadaku: pertama, agar aku senantiasa melihat orang yang di bawahku dan jangan sekali-kali melihat orang yang di atas; kedua, mencintai orang miskin dan mendekati mereka; ketiga, selalu berkata benar, meskipun pahit; keempat, tidak meminta-minta kepada siapapun; kelima, menjalin tali silaturahmi sekalipun mereka berpaling; keenam, tidak takut dicaci ketika berdakwah di jalan Allah, ketujuh; memperbanyak membaca laa haula wa quwwata illa billah.”

Tujuh pesan yang disampaikan Nabi SAW ini tentu tidak terkhusus untuk Abu Dzar semata. Kendati wasiat ini disampaikan kepadanya, namun makna hadits ini tetap berlaku umum. Siapapun dianjurkan bahkan diwajibkan. Ini sejalan dengan kaidah, al-‘ibratu bi ‘umumil lafdzi la bi khususis sabab (yang menjadi patokan keumuman redaksi hadits, bukan konteks spesifiknya).

Dilihat dari isi wasiatnya, sebagian besar nasihat Nabi SAW ini sangat layak dijadikan panduan menjalani kehidupan. Terlebih lagi, kontennya tidak hanya berisi ibadah ritual, tapi juga berupa panduan etika, motivasi hidup, dan panduan bermasyarakat.

Misalnya, Nabi meminta untuk melihat orang yang di bawah kita dan jangan terlalu fokus pada orang yang di atas kita. Maksudnya, dalam menjalani kehidupan tentu ada yang memiliki kelebihan dan kekurangan, sering kali kita iri terhadap orang yang diberikan kelebihan, akibatnya kita malah menjadi orang yang kurang bersyukur.

Dengan memperhatikan kondisi hidup orang di bawah kita baik dari sisi ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan, hal ini akan memupuk keprihatinan dan rasa syukur terhadap nikmat yang sudah diberikan Tuhan.

Begitu pula dengan anjuran mencintai fakir miskin dan mendekati mereka. Kita dituntut memperhatikan mereka dan memberikan sebagian kelebihan yang kita miliki untuk membantu kehidupan mereka. Memberikan bantuan terhadap fakir miskin tersebut membuat ikatan persaudaraan dan kemanusiaan kita semakin menguat. Semoga kita dapat mengamalkan isi wasiat ini. Wallahu a’lam.

Sumber: NU Olline

Strategi dakwah di setiap negeri-negeri Islam jelas berbeda. Terikat pada jenis mazhab yang dipegang oleh tiap negara tersebut. Tiap negara punya kekurangan dan kelebihan. Di antara negara itu sendiri terdiri dari suku-suku dan bangsa-bangsa, adat istiadat yang berbeda.
Peranan apa yang harus kita lakukan di dalam dakwah bagi negeri masing-masing? Apakah bisa kita mampu membangun intelektualitas, terutama berdasar Quran dan hadits yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan masa kekinian.

Kalau kita bicara tentang khilafiyah, tentu akan terus berlangsung sampai akhir zaman. Kita melulu bertikai tentang Hanafi, Hanbali, Syafii. Sampai kapan? Kita berputar-putar dalam perdebatan sementara negeri lain sudah maju. Baik dalam ilmu kedokteran, pertanian, nuklir, teknologi, belum lain-lainnya. Padahal semua ilmu tersebut ada di dalam kitab suci kita sendiri, Al-Quran.

Betapa lucunya, ketika kita minum obat, kita baca bismillah. Sedangkan yang membuat obat tersebut mungkin tidak paham apa itu bismillah. Apa upaya kita agar yg membuat obat tersebut mengucap dan memahami Basmalah. Bagaimana kita bisa demikian? Lalu sampai kapan kita akan terus menerus bertengkar tentang perbedaan?

Saya berharap, fakultas terbesar dalam kedokteran harusnya ada di Indonesia, Suriah, atau dimanapun negara kaum muslimin. Sampai kita harus paham ilmu atom, ilmu-ilmu sains lain, yang semuanya sebenarnya ada di dalam Quran. Saya selalu saja sedih jika mendengar pertikaian pendapat umat Islam atas hal-hal khilafiyah. Kita malu. Malu kepada siapa? Kepada Allah dan Rasulullah!

Ini suatu pukulan yang harus kita sadari.

Maka kami harapkan konferensi ini menghasilkan manfaat, berupa kesadaran dan gerakan tentang hal ini, yang bisa kita bawa kembali ke tempat masing-masing. Karena hal tersebut merupakan bentuk bela negara.

----------

[Kalimat penutup dari Maulana Habib Luthfi bin Yahya dalam Konferensi Internasional Bela Negara hari pertama, Pekalongan 27 Juli 2016]

Sumber: Jatman Event

Ketika masuk dalam kompleks Keraton Kacirebonan dan Keraton Keprabonan kerap terlihat simbol-simbol yang terpampang, salah satunya simbol tiga ikan yang kepalanya menyatu "iwak telu sirah sanunggal", yang terukir indah di beberapa daun pintu, ada pula yang menempel di sisi-sisi atas dinding keraton.

Kenapa simbol itu digunakan dan apa landasan maknanya. Raffan S Hasyim, sejarawan Cirebon menguraikan, asal mula simbol ikan bersumber dari manuskrip-manuskrip Cirebon abad 19 yang belakangan kemudian dijadikan lambang resmi Keraton Kacirebonan. Ia merupakan ilustrasi ajaran tarekat Syattariyah yang menjelaskan makna ora pecat (kebersatuan), baik antara Adam (manusia) Mahammad (syariat) dan Allah, antara jasad, roh dan Allah, maupun kesatuan tauhid antara zat, sifat dan af 'al (perbuatan). 

Dengan mengutip Kitab Babon Petarekatan. Opan, panggilan akrab Raffan S Hasyim menambahkan, simbol ikan dapat juga dimaknai sebagai ilustrasi konsep manunggaling kawula gusti (wihdatul wujud) atau penggambaran dari penjelasan ayat wallahu ‘ala kulli syaiin mukhit (Sesungguhnya Allah atas segala sesuatu Maha Meliputi).

Simbolisme ikan dalam ajaran tarekat menurut Mahrus El-Mawa, filolog Cirebon, menunjukkan bahwa sejak dulu di Cirebon telah terjadi pribumisasi Islam atau yang lebih khusus, pribumisasi tarekat. Dalam konteks ini, tarekat Syattariyah yang berasal dari negeri luar (India), oleh kecerdasan dan kreatifitas para ulama Cirebon disesuaikan dengan kultur lokal masyarakat Cirebon melalui proses akulturasi. 

Kenapa ikan, bukan ilustrasi benda lainnya? Dalam disertasinya di Universitas Indonesia yang meneliti isi manuskrip Cirebon, Sattariyyah wa Muhammadiyyah, Mahrus berhipotesa bahwa masyarakat Cirebon yang merupakan masyarakat nelayan, masyarakat pesisir, sangat akrab dengan ikan. Jadi, simbolisasi ikan akan lebih mudah dimengerti oleh masyarakat Cirebon dalam memahami ajaran tasawuf, yang kemudian diamalkan menjadi laku spiritual kehidupan sehari-hari.


Tarekat di Cirebon

Tidak ada, atau tepatnya belum ditemukan catatan historis yang dapat memastikan kapan dan tarekat mana yang mula-mula berkembang dan menjadi terlembagakan sebagai organisasi spiritual yang hadir di Nusantara. Kendati demikian, Martin van Bruinessen berpandangan bahwa berdasarkan Serat Banten Rante-rante, Sunan Gunung Jati pernah melakukan perjalanan ke tanah Suci dan berjumpa dengan Syaikh Najmuddin Kubra dan Syaikh Abu Hasan Asy- Syadzili. 

Dalam bukunya, Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat, Tradisi-tradisi Islam di Indonesia, Martin menduga, dari kedua tokoh berlainan masa itu sang sunan konon menjadi pengikut Tarekat Kubrawiyyah dan Syadziliyyah sekaligus memperoleh ijazah kemursyidan dari keduanya. Meski jika mengacu pada data kronologi sejarah tentu saja pertemuan fisik antara Sunan Gunung Jati yang hidup di abad 16 dengan Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili yang wafat di abad 13, apalagi dengan Syaikh Najmudin Kubra yang wafat pada tahun 1221 M, secara faktual tidaklah mungkin.

Terlepas dari kebenaran cerita dalam Serat Banten Rante-rante, Agus Sunyoto justru menyuguhkan data yang berbeda, meski tidak terlembagakan, mengacu pada naskah-naskah Wangsakerta, dalam buku Suluk Abdul Jalil, Agus menyebut bahwa tarekat yang awal mula berkembang di Cirebon adalah tarekat Syattariyah yang dibawa oleh Syekh Datuk Kahfi, guru spritualnya Syekh Siti Jenar, pembawa ajaran tarekat Akmaliyah. Mengapa tidak terlembagakan, karena, lanjut Agus, dalam tradisi tarekat pertama kali tidak mengenal konsep jama'ah dalam mujahadah sehingga dilakukan sendiri-sendiri.

Dinamika Syattariyah di Cirebon kemudian mengalami perkembangan seiring dengan kemunculan tokoh-tokoh Syattariyah lokal di Cirebon. Para tokoh tersebut mengembangkan Syattariyah di lingkungan kraton dan pesantren sesuai dengan silsilah wirid dan dzikir dari setiap guru (mursyid). Kiai Muhammad Arjain diduga mengembangkan Syattariyah di Kraton Kacirebonan dan Kanoman melalui jalur Syekh Abd al-Muhyi. Kiai Muqayyim mengembangkan Syattariyah di lingkungan tertentui. Kiai Anwaruddin Kriyan diyakini mengembangkan Syattariyah di Pesantren Buntet dan Pesantren Bendakerep. Pangeran Jatmaningrat Muhammad Safiuddin diyakini mengembangkan Syattariyah di Kraton Keprabonan, Kanoman, Kasepuhan, dan Pesantren Balerante. Yang disebut terakhir inilah silsilah Syattariyah Cirebon memiliki kekhasan simbolisme iwak telu sirah sanunggal yang tidak dapat ditemui dalam silsilah Syattariyah Pamijahan, Minangkabau, Aceh maupun daerah lainnya. Wallahu a’lam.

Sumber: NU Online

Cirebon - Pengurus Cabang MATAN Cirebon pada sabtu (16/4) lalu melaksanakan peringatan hari lahir MATAN Cirebon yang kedua dengan tema,"Muda Berthariqah Untuk Masa Depan Indonesia Penuh Berkah".

Peringatan Harlah MATAN Cirebon diadakan di halaman PP. Al Fatih Kayuwalang Majasem Kota Cirebon setelah shalat zhuhur dengan dibuka pembacaan maulid ad-diba'i oleh Santri Pesantren Mahasiswa Ulumuddin Kota Cirebon.

Dalam Sambutannya, Syukron Ma'mun selaku Ketua MATAN Cirebon menegaskan pentingnya anak muda berthariqah.

"Anak muda, khususnya mahasiswa harus sejak dini masuk thariqah, karena berthariqah bukan hanya untuk orang tua, dan berthariqah bukan hanya duduk muter tasbeh, tapi thariqah juga untuk anak muda karena kita tidak tahu kapan umur kita berakhir, dan thariqah pun menekankan pentingnya aplikasi dari wirid yang dibaca berupa akhlakul karimah dan menjadi manusia yang bermanfaat", jelasnya.

Syukron melanjutkan,"Selama ini anak muda dijauhkan agar tidak masuk thariqah. Itu adalah upaya penjajah dulu karena yang melakukan perlawanan itu banyak dari kalangan thariqah. Maka penjajah sebisa mungkin menjauhkan anak muda dari thariqah, dari Ulama dan Auliya".

Sementara Habib Masholeh bin Yahya dalam taushiyahnya menegaskan fungsi thariqah sebagai pembersih hati dan penyuci jiwa sehingga buahnya menjadi manusia yang berakhlakul karimah dan bermanfaat.

Habib Masholeh yang memberi taushiyah menggantikan Habib Luthfi bin Yahya juga menjelaskan bahwa thariqah merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan dan menguatkan kecintaan terhadap Allah, Rasulullah, dan Ulama pewaris para Nabi, dan menguatkan Iman, karena penguat iman ialah masjid, membaca al Quran, dan mengingat Allah, adapun dalam thariqah ditekankan untuk selalu mengingat Allah.

Beliau melanjutkan,"Dalam perkumpulan dan acara seperti ini ada kekuatan ukhuwwah, persaudaraan. Kalau kita orang NU, ukhuwwah ada tiga yaitu ukhuwwah imaniyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah".

Peringatan Harlan MATAN Cirebon ditutup dengan doa oleh Habib Masholeh, dan sebelum doa, Beliau memberi ijazah istighfar yang Beliau peroleh istighfar itu dari Habib Salim Asy Syathiri Tarim.


Siapa sih orang yang ingin memiliki hati yang kotor? Dan siapa sih orang yang ingin hatinya melupakan Allah dan semakin tambah lupa? Di sinilah pentingnya tarekat yaitu melepaskan kedua penyakit yang sangat berbahaya. Jelasnya untuk mengatasi kealpaan dalam hati dan menghilangkan noktah atau kotoran yang ada.

Kalau seseorang ingin hatinya bersih dan membersihkan hati, paling tidak ia akan tertarik dengan tarekat itu sendiri, karena diantara fungsi yang ada dalam tarekat itu adalah menghapuskan kotoran dalam hati dengan selalu mengamalkan zikirnya.

Harus diingat bahwa tarekat itu bukan hanya amalan para wali. Tarekat itu untuk mengantarkan kita agar kita selalu merasa melihat Allah atau merasa dilihat dan didengar Allah (Ihsan). Sehingga buahnya adalah hati dan perilaku yang terpuji.

Hukum bertarekat itu ada dua. Pertama, kalau bertarekat dengan dasar supaya banyak berzikir, itu sunnah. Tapi kalau dasarnya untuk menjauhkan hati dari sifat yang tidak terpuji seperti lalai kepada Allah hingga menimbulkan sombong, dengki, dalam hal ini hukumnya wajib.

Syarat masuk tarekat itu pertama terutama sudah mengetahui yang sudah diwajibkan syariat Allah, seperti mengetahui mana yang wajib, mustahil, jaiiz (mungkin) bagi Allah. Maksudnya dia telah mengerti 20 sifat Allah.

Kedua, dia telah mengetahui hukum-hukum ibadah, seperti rukun wudhu, rukun iman, yang membatalkan wudhu, rukun shalat, yang membatalkan shalat, dan bisa membedakan mana yang halal dan haram. Bilamana itu sudah tercukupi, dipersilakan menambah amalan-amalan atau ibadah dalam tarekat, karena tarekat tidak mengatur yang zhahir belaka. Tarekat juga mengatur hati supaya bersih dari sifat-sifat yang tidak dibenarkan oleh Allah dan Rasulullah. Hal demikian itu, perlu kita rintis dari sedini mungkin.

Adapun yang dimaksud dengan baiat dalam tarekat adalah mengambil janji. Sebagaimana sahabat mengambil janji terhadap Nabi SAW. Yaitu meninggalkan perbuatan dosa besar, dan mengurangi dosa kecil. Mengapa kita mengurangi dosa kecil? Karena dosa kecil bermula dari kelalaian dan menganggap enteng. Sehingga disebut mengurangi, supaya kita betul-betul tidak lalai, walau sekecil apapun. Kedua, janji taat kepada Allah dan Rasul-Nya, para wali, dan para ulama, menaati al Quran dan Hadits, menaati Negara dan pemerintahan. Ini yang disebut baiat. Baik antara pribadi dan Tuhannya, maupun pribadi dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam

Jakarta - Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Sirodj menjelaskan, ada sejumlah Habaib di Jakarta yang belum paham sepenuhnya soal Islam Nusantara. Untuk itu mereka diundang ke gedung PBNU sekaligus mengikuti acara Maulid Nabi, Rabu (16/3) malam.

“Ada beberapa yang belum paham. Dipikirkan Islam Nusantara akan membangun mazhab yang anti-Arab, atau menyingkirkannya. Tidak mungkin dong, Nabi kita orang Arab, Qur’an berbahasa Arab. Islam Nusantara adalah Islam yang dibangun di atas masyarakat yang tinggal di kawasan Nusantara,” katanya. 

Kiai lulusan Universitas Ummul Qurra Makkah ini menjelaskan, kelebihan Islam Nusantara yang dibangun sejak zaman Walisongo ini adalah kemampuanya menyatu dengan konsep kebangsaan atau wathonyiah.

Dikatakannya, di jazirah Arab, antara nasionalisme dan Islam selalu dipisahkan. Ulama terkemuka di Arab seperti Hasan Al Banna, Sayydi Qutb, Said Hawwa, Hassan Turobi, Yusuf Qardhawi dan lainnya bukan merupakan tokoh nasionalis sementara di sisi lain, pengusung ide nasionalis bukanlah ulama seperti Hafidz Assad, Jamal Nasser, sampai dengan Muammar Qaddafi. 

“Kita Alhamdulillah, ada ulama nasionalis, seperti Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, Agus Salim. Dan nasionalisme ulama Indonesia ini bukan karena pengaruh bukunya Ernes Renant. Kalau nasionalisme di Arab berakar dari partai Baath, yang ideologinya sosialisme sekuler,” tandasnya.

Sumber: NU Online

Menilik kehidupan Raden Mas Ontowiryo atau Pangeran Diponegoro yang sangat agamais, ternyata tidak lepas dari peran eyang buyutnya, Ratu Ageng. Ihwal demikian, menurut Peter Brian Ramsay Carey, yang membawa Pangeran Diponegoro menjadi penganut Islam Sufi, Tarekat Shattariyah.

“Diponegoro seorang Islam Sufi, penganut Tarekat Shattariyah, sama seperti eyang buyutnya, Ratu Ageng yang menjadi embannya (pengasuhnya),” tutur Peter Carey, sejarawan asal Inggris yang meneliti kehidupan Pangeran Diponegoro, Selasa 15 Maret 2016.

Bahkan, tambah Peter, penganut utama di Keraton Yogya zaman Hamengku Buwono I adalah Tarekat Shattariyah dengan rujukan langsung pendirinya Syeh Abdul Muhyi di Pulau Jawa pada abad XVII.

“Karena itu, semua alam pikiran dan gagasan Diponegoro sebagai seorang Muslim yang saleh, diwarnai oleh ajaran sufi,” tambahnya. 

Adapun alasan lain yang menguatkan Peter Ramsay bahwa Diponegoro merupakan seorang Tarekat Shattariyah adalah ketika Peter mengetahui sewaktu masa pengasingan Diponegoro, salah satu kegemaran pangeran itu adalah melukis daerah yang terikat dengan hal mistik.

“Diponegoro melukis daerah (bagan mistik) yang menunjukkan bagaimana untuk mengatur pernapasan dan pengucapan zikir selama berdoa supaya nama dari Hyang Widi / Gusti Allah bisa diukir di kalbu (hati). Ia juga menganut suatu pandangan mistik terhadap dogma dasar Islam, yaitu tauhid, pengakuan keesaan Allah,” paparnya.

“Diponegoro berpendapat bahwa semua upaya manusia haruslah ditujukan pada kesetiaan terhadap pengakuan tersebut dengan menolak mempersekutukan Allah dengan segala makhluk, termasuk diri sendiri dan berusaha mencapai kemananggulan dengan Yang Abadi dan Yang Esa (Kang Jati Purbaning Sukma),” tutupnya.

Sumber: Satu Islam

Salah satu kiai yang menjadi pejuang pada masa revolusi ialah Kiai Abbas bin Abdul Jamil, Buntet Cirebon. Kiai Abbas merupakan kiai kharismatik, yang dikenal karena pengetahuan keislaman, keteduhan spiritual dan kekuatan ilmu kanuragan yang menjadikan beliau sebagai rujukan dalam perang kemerdekaan. Kiai Abbas, dikenal sebagai Angkatan Udara Nahdlatul Ulama, yang menghancurkan beberapa pesawat tempur tentara NICA, dalam perang kemerdekaan di Surabaya, November 1945. Uniknya, Kiai Abbas menggunakan bakiak, tasbih dan butiran pasir sebagai senjata untuk merontokkan pesawat tempur musuh. Bagaimana kisahnya?

Kiai Abbas merupakan putra sulung dari Kiai Abdul Jamil, pengasuh pesantren Buntet, Cirebon. Beliau lahir pada 24 Dzulhijjah 1300 H/1879 M, di Cirebon, Jawa Barat. Pada masa kecilnya, Kiai Abbas belajar mengaji dengan Kiai Nasuha Plered Cirebon dan Kiai Hasan, Jatisari. Setelah itu, Abbas kecil berkelana untuk mengaji ke Tegal, di bawah asuhan Kiai Ubaedah. Setelah itu, menuju Jombang, Jawa Timur untuk mengaji kepada Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari.

Pada kisaran tahun 1900an, Kiai Abbas datang untuk belajar ke pesantren Tebu Ireng, Jombang. Beliau datang bersama saudaranya, yakni Kiai Sholeh Zamzam, Kiai Abdullah Pengurangan, dan Kiai Syamsuri Wanatar. Pada waktu itu, pesantren Tebu Ireng masih sering diganggu oleh musuh, yakni berandal-berandal lokal di sekitar Pabrik Gula Cukir. Bersama santri-santri lainnya, Kiai Abbas membantu Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari melawan bandit lokal yang mengganggu pesantren. Akhirnya, para berandal lokal dan bandit-bandit kecil kalah dalam adu ilmu kanuragan (Masyamul Huda, 2014). PesantrenTebu Ireng menjadi aman, serta jadi rujukan santri untuk mengaji.

Ketika belajar di pesantren, bakat sebagai pemimpin, ahli ilmu, ahli strategi dan watak periang sudah terlihat dalam diri Kiai Abbas. Beliau berkawan karib dengan Kiai Wahab Chasbullah, putra Kiai Chasbullah Said, Tambakberas, Jombang. Setelah melalang buana di pesantren Jawa, Kiai Abbas kemudian menikah dan berangkat haji ke tanah suci. Di tanah Arab, Kiai Abbas bertemu dengan banyak kawan asal Nusantara yang belajar di Hijaz. Ia banyak diskusi dengan mereka, untuk memperdalam pengetahuan agama dan wawasan global.

Kemudian, Kiai Abbas pulang sebentar ke tanah air, dan kembali lagi ke tanah suci untuk belajar. Di Makkah, Kiai Abbas menjadi santri Syekh Ahmad Zubaidi. Kiai Abbas juga belajar kepada Syekh Mahfudh at-Termasi dan Syaikh Chatib al-Minangkabawi. Di tanah suci, Kiai Abbas dengan tekun belajar, diskusi dan menggelar pelbagai majlis ilmu bersama kawan-kawannya. Pada usia 40 tahun, Kiai Abbas mendapatkan tugas sebagai pengajar.


Mengembangkan Pesantren Buntet

Sekembali ke tanah air, Kiai Abbas kemudian mengembangkan pesantren Buntet, yang menjadi peninggalan ayahandanya. Di bawah asuhan Kiain Abbas, pesantren Buntet menjadi ramai oleh santri dan terkenal sebagai salah satu rujukan dalam mengaji serta memperdalam ilmu Islam. Bagi Kiai Abbas, siapa saja boleh datang untuk mengaji di pesantren, untuk belajar berbagai macam ilmu. Pengetahuan dan wawasan yang diperoleh Kiai Abbas ketika belajar di pesantren dan mengaji di tanah suci, digunakan untuk menguatkan model pendidikan pesantren Buntet. Di pesantren ini, pada masa Kiai Abbas, bermacam ilmu diajarkan, dari ilmu al-Qur’an, ilmu Qiroat, Hadist, Tauhid hingga kanuragan menjadi bagian dari tradisi pembelajaran santri.

Kiai Abbas, selain mengasuh santri, juga menjadi Mursyid Tarekat Syattariyah dan Muqoddam Tarekat Tijaniyyah. Dalam catatan Muhaimin AG, Kiai Abbas termasuk sosok kiai dengan pikiran yang terbuka. Ketika beberapa Kiai menolak tarekat Tijaniyyah, Kiai Abbas menerima sebagai salah satu alternatif dalam laku batin. Di Cirebon, dalam perkembangannya, tarekat Tijaniyah berkembang, dengan Kiai Abbas dan Kiai Annas sebagai muqoddamnya. Kiai Annas kemudian melahirkan beberapa kiai yang menjadi penerus muqoddam dalam praktik tarekat Tijaniyyah: Kiai Muhammad (Brebes), Kiai Bakri (Kasepuhan, Cirebon), Kiai Muhammad Rais (Cirebon), Kiai Murtadho (Buntet), Kiai Abdul Khair, Kiai Hawi (Buntet), serta Kiai Soleh (Pesawahan). Sedangkan, Kiai Abbas mencetak beberapa penerus dalam tarekat ini, yakni: Kiai Badruzzaman (Garut), Kiai Ustman Dlomiri (Cimahi, Bandung), serta Kiai Saleh dan Kiai Hawi (Buntet) (Muhaimin, 2006: 264).

Kiai Abbas menjadikan pesantren Buntet sebagai rujukan santri. Beliau menambah staf pengajar untuk mengakomodasi kebutuhan santri-santri dalam belajar berbagai macam ilmu. Kiai Abbas juga mendirikan madrasah yang dipadukan dengan pendidikan sekolah. Madrasah inilah yang dinamakan Abna’oel Wathan, yang menegaskan visi perjuangan Kiai Abbas dalam membangun fondasi negara.


Pejuang Revolusi

Kiai Abbas Buntet merupakan murid dari ulama Nusantara yang menjadi penyambung sanad para kiai: Kiai Nawawi al Bantani dan Syech Mahfudh at-Tirmasi. Selain Kiai Nawawi, ada beberapa murid lain yang juga menjadi kiai-kiai penting di Jawa, sebagai jaringan penggerak Nahdlatul Ulama. Di antaranya: Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muhammad Bakri bin Nur, Kiai Asnawi Kudus, Kiai Muammar bin Baidlawi Lasem, Kiai Ma’shum bin Muhammad Lasem, Haji Ilyas (Serang), Tubagus Muhammad Asnawi dan Abdul Ghaffar dari Caringin (Burhanuddin, 116).

Kiai Abbas, adalah sosok pejuang yang mencintai tanah air, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau menggembleng santri agar semangat memperjuangkan agama dan negara. Bahkan, pesantren Buntet juga menjadi markas latihan laskar Hizbullah, Sabilillah, dan pasukan PETA. Kiai Abbas juga membentuk dua regu laskar santri, yang dinamakan Asybal dan Athfal.

Dikisahkan, dalam pertempuran 10 November 1945, Kiai Abbas menggenggam pasir yang ditaburkan ke arah musuh. Aksi ini membuat musuh kocar-kacir, karena seakan-akan pasir yang ditaburkan menjadi meriam dan bom yang menghancurkan.

Sebelum pertempuran ini, Kiai Abbas juga ikut andil dalam keputusan Resolusi Jihad, yang merupakan keputusan para Kiai dalam rapat Nahdlatul Ulama di Bubutan, Surabaya, pada 21-22 Oktober 1945. Beberapa kiai, di antaranya Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri, Kiai Abbas Buntet, Kiai Wahid Hasyim, dan beberapa kiai lainnya berkumpul dalam sebuah majlis untuk membahas penyerbuan tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Fatwa Jihad yang digelorakan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari akhirnya menjadi catatan sejarah, sebagi pengobar semangat kaum santri untuk berjuang mempetahankan negeri.

Pada pertempuran 10 November 1945, Kiai Abbas ikut membaur dengan pejuang dari kalangan Kiai yang berpusat di Markas Ulama, di rumah Kiai Yasin Blauran Surabaya. Di rumah ini, para kiai berkumpul untuk merancang strategi, menyusun komando serta memberikan suwuk/doa kepada para santri pejuang yang bertempur melawan penjajah (Amin, 2008: 72)

Setelah masa perjuangan kemerdekaan, Kiai Abbas mendapat amanah sebagai anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat)—yang kedudukannya sebagai DPR sementara. Kiai Abbas mewakili area Jawa Barat, dalam kedudukannya sebagai anggota KNIP.

Kiai Abbas dikenal sebagai kiai yang memiliki ilmu kedigdayaan yang tinggi pada masa hidupnya. Beliau tak hanya berilmu agama mendalam, namun juga dikenal digdaya dan ampuh. Kemampuan Kiai Abbas dalam bidang psychokinesys—yang berangkat dari Cirebon menuju Surabaya dalam sekejap hentakan kaki, merupakan karomah yang diberikan Allah kepada beliau (Amin, 2008: 72). Inilah potret Kiai Abbas yang berjuang dengan ikhlas dan rela untuk menjaga negeri dari tangan penjajah. Sudah selayaknya, perjuangan Kiai Abbas menjadi referensi pewaris negeri, sebagai pahlawan dari kaum santri.

Munawir Aziz, Koordinator Teraju Indonesia, Wakil Sekretaris LTN PBNU, (@MunawirAziz)

Referensi:
Abdul Ghoffir Muhaimin, The Islamic Tradition of Cirebon: Ibadat and Adat among Javanese Muslim, Canberra: ANU Press, 2006.

_____________________________. Pesantren and Tarekat in the Modern Era: An Account of the Transmission of Traditional Islam in Java, Jakarta, Studia Islamika, 1997.

Abdul Wahid, Peranan Pondok Pesantren Buntet Cirebon bagi Kemajuan Lingkungan Pendidikan di Lingkungan Sekitar 1958-2009, Universitas Negeri Semarang, 2012.

Hasan AZ, Perlawanan dari Tanah Pengasingan: Kiai Abbas, Pesantren Buntet dan Bela Negara, Yogyakarta: LKIS. 2014.

Jajat Burhanuddin, Ulama dan Kekuasaan: Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia, Jakarta: Mizan, 2012.

Samsul Munir Amin, Karomah Para Kiai, Yogyakarta: LKIS. 2008.

Sumber: NU Online

"Kang, sampean ini orang Thariqah atau orang pasar sih? Katanya organisasi Thariqah tapi kok ngurusi dagang terus?", seorang kawan mendadak membuka obrolan sore hari yang mendung ini dengan pertanyaan yang sebelumnya tak pernah ku duga.

"Sini duduk dulu. Kopinya disruput dulu", jawabku.

"Kenapa? Ada apa? Maksudnya tadi apa, Kang?", tanyaku padanya sebelum dia selesai menyeruput kopi.

Masih dengan mimik serius, dia berkata,"MATAN itu kan organisasi Thariqah, tapi kok ngurusinnya dagang terus. Dagang kaos lah, dagang bawang borneo lah. Malah nggak keliatan kegiatan Thariqahnya. Yang keliatan hanya dagang dan dagang".

Sambil tersenyum dan menikmati kretek khas Nusantara, saya menjawab dengan balik bertanya, "Lha emang nggak boleh orang Thariqah berdagang?".

Gini lho kang, jawabnya bersemangat, sampean ini ngajak anak muda berthariqah aja udah aneh dan nggak umum, apalagi ini berthariqah tapi sibuk dagang. Anak muda kok berthariqah. Berthariqah itu nanti aja kang, kalau udah tua. Ya gini ini kalau masih muda berthariqah. Berthariqah bukan sibuk berdzikir dan beribadah tapi malah sibuk dagang.

"Kang, kalau nunggu tua, apa sampean bisa umurnya sampai tua? Apa ada nash yang melarang anak muda berthariqah? Apa ada nash atau pendapat ulama yang melarang ahli Thariqah berdagang?", saya balik bertanya.

Dia hanya diam.

"Kita selama ini telah dibodohi penjajah agar kaum muda tidak berthariqah sehingga kaum muda tidak punya pegangan dan tidak punya rasa cinta pada Ulama dan Baginda Nabi. Kita juga dibohongi kalau berthariqah itu nggak boleh berdagang, nggak boleh kaya. Jadi orang menjauhi thariqah karena takut miskin. Takut gak bisa mencari harta atau nafkah", saya menjelaskan. Dia masih diam.

Saya melanjutkan, "Para Imam Thariqah seperti Syekh Abdul Qadir Al Jilani, Syekh Abul Hasan Asy Syadzili, Syekh Abul Qasim Junaidi Al Baghdadi itu orang yang kaya raya. Islam juga mengajak kita agar kaya. Kita zakat, infaq, shadaqah, haji itu butuh harta. Itu semua bisa kita laksanakan kalau kita punya harta. Mau sampai kapan ternina bobo, kang?".

Harus sampean tahu kang, saya melanjutkan, kiai-kiai kita itu sebelum membuat NU, buat Nahdlatut Tujjar dulu. Kebangkitan para pedagang. Artinya, kiai-kiai kita sebelum membuat Nahdlatul Ulama, membangun pondasi ekonomi yang kuat melalui Nahdlatut Tujjar, baru setelah itu tashwirul afkar dan Nahdlatul Ulama. Kiai-kiai kita dulu itu kaya raya. Sawahnya berhektar-hektar. Seperti Kiai Muhtadi Benda Kerep, Kiai Abbas Buntet, sehingga dalam berdakwah beliau-beliau mandiri ekonomi dan tidak mengharapkan amplop atau sekarang proposal. Paham kang?

Dia masih diam. Menundukkan kepala. Kulihat ternyata dia tertidur.

Sumber: Oon

Hal itu disampaikan dalam suatu kesempatan, ketika perwakilan pengurus MATAN Cirebon bersilaturrahim ke kediaman Habib Luthfi di Pekalongan.

"Jangan hanya Manaqib Syeikh Abdul Qadir yang dibaca. Semua Imam Thariqah. Misal bulan ini membaca manaqib Syeikh Abdul Qodir, bulan depan Syeikh Abul Hasan Asy Syadzili, lalu Syeikh Bahauddin An Naqsybandiy, dan seterusnya, sehingga semua Thariqah merasa terwadahi, tidak dianggap satu thariqah saja", papar Rais 'Aam Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdhiyyah (JATMAN).

Habib Luthfi juga menasehati pengurus MATAN Cirebon agar kuat menghadapi segala macam cobaan dan fitnah dalam mengurusi MATAN.

"Tidak ada tokoh besar, wali besar yang hidupnya enak. Semua penuh fitnah. Abah Umar Panguragan sampai sudah wafat pun fitnahnya masih terus ada", jelas Beliau.

Di akhir pertemuan, Habib Luthfi memberi ijazah dan izin kepada semua pengurus MATAN Cirebon yang hadir untuk membaca manaqib semua Imam Thariqah dan Auliya'.

"Adanya ijazah manaqib itu, karena dalam manaqib ada kalimat-kalimat atau istilah khas tasawwuf yang harus ditakwil, sehingga perlu bimbingan Guru untuk memahaminya", pungkas beliau.

Sember: Oon

Ilustrasi #MudaBerthariqah
Seorang kawan berkata padaku, "Kang, sampean kok berani sih masuk thariqah? Bukannya masuk thariqah itu kudu sempurna dulu syariatnya? Atau setidaknya berumur minimal 40 tahun?".

Saya hanya tersenyum, lalu saya balik bertanya pada kawanku yang lama mesantren itu, "Apa tolak ukur indikator bahwa syariat kita sudah sempurna, Kang? Lalu, siapa yang bisa menjamin kita bisa hidup sampai umur 40 tahun?".

Kawanku diam beberapa saat. Kemudian dia berkata,"Saya sih belum siap berbaiat thariqah. Masih banyak dosa, masih suka maksiat. Terus, kata Kiaiku, thariqahnya cukup ta'lim wa ta'allum".

Kalau saya pribadi kang, jawabku, karena saya ini banyal dosa, masih suka maksiat tapi saya pengen banget masuk sorga dan ketemu Rasulullah di sorga, maka saya butuh pembersih untuk setidaknya membersihkan dosaku yang sudah terlanjur menempel dan menggunung, dan juga butuh rem agar tidak terus-menerus terbawa arus maksiat. Lha bagiku pembersih dan remnya itu ya melalui thariqah itu. Adapun ta'lim wa ta'allum atau belajar dan mengajar, saya belum bisa menjadikannya thariqah dalam hidupku kang. Lha wong kalau libur ngaji itu saya senang banget kok. Ngaji seminggu sekali juga gak mesti datang".

Tapi bukannya thariqah itu bertujuan agar sampai pada Allah kang? Ta'lim wa ta'allum kan bisa mengantar sampai pada Allah? Tanya kawanku.

Saya jawab,"Bagi saya pribadi itu terlalu tinggi kang. Tujuan thariqah kan menghilangkan sifat lalai atau lupa pada Allah. Itu tujuan utama. Meskipun saya pribadi itu masih terlalu tinggi dan berat. Jadi saya sih berthariqah itu tujuannya agar dosa saya bisa sedikit demi sedikit dibersihkan dan menjadi rem agar tidak larut maksiat, juga biar waktu sakaratul maut saya bisa mengucapkan laa Ilaaha illa Allah. Itu saja tujuan pribadi saya. Kalau wushul atau sampai pada Allah dan menghilangkan lalai atau lupa pada Allah masih terlalu tinggi, apalagi jadi wali".

Saya melanjutkan, "Gini lho kang, dalam sejarah bangsa ini. Kelompok yang paling getol melawan penjajah adalah Ahli Thariqah. Maka setelah penjajah mempelajarinya, mereka menyebarkan paham atau ide bahwa masuk thariqah itu nunggu tua atau minimal umur 40 tahun. Tujuannya biar para pemuda tidak punya pegangan dan kecintaan pada Guru, Ulama, Wali, dan Bangsa ini. Jadi kalau yang berthariqah udah tua-tua, kan gampang ngalahinnya. Sekarang pun gitu kang. Meskipun perangnya bukan lagi perang fisik. Tapi bagaimana caranya agar para pemuda tidak mempunyai pegangan dan kecintaan pada Guru, Ulama, Rasulullah, dan Bangsa ini, sehingga para pemuda mudah diombang-ambing dan dipecah belah. Saya pamit dulu ya. Mau ada perlu. Wassalam".

Pantengin terus http://twitter.com/MatanCirebon #MudaBerthariqah
Sumber: Oon

Pekalongan - Demikian seperti yang disampaikan oleh Shaykh Adnan Al Afyuni dari Syria dalam Konferensi Internasional Ulama Bela Negara yang diadakan oleh Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (JATMAN) di Hotel Santika Kota Pekalongan Jumat pagi ini (15/1).

“Disaat seseorang sudah tidak mendengar tawa ceria anak dan hanya mendengar bunyi tank dan desing senapan, maka dia baru merasakan bahwa kedamaian Negara itu sangat penting. Nabi Muhammad SAW selalu melindungi tanah air, Madinah, dari segala ancaman keamanan dan kesejahteraan warga dan Negara. Rasulullah pun, sebagaimana dalam shahih Bukhari, menetapkan Madinah sebagai Negara yang mulia, dan aman, dan berdoa untuk keamanan dan kesejahteraan Madinah”. Papar Mursyid Naqsybandiyyah tersebut.

Mufti Mazhab Syafi’I Syria tersebut melanjutkan bahwa bela Negara bukan hanya melawan serangan musuh dan menjaga keamanan Negara, tapi juga memakmurkan dan memajukan Negara sehingga tidak bergantung pada pihak lain, mempunyai semangat solidaritas dan soliditas yang tinggi sesama Bangsa, melindungi warga dari pemikiran dan faham yang menyebabkan perpecahan, disintegrasi Bangsa, pengkafiran, dan hak hidup manusia.

Sebagaimana yang telah diberitakan sebelumnya, hari ini (15/1) sedang diadakan Koneferensi Ulama Internasional Bela Negara di Hotel Santika Kota Pekalongan dan dihadiri oleh 300 tamu undangan dari dalam dan luar Negeri.

Pekalongan - MATAN Cirebon berpartisipasi aktif dalam Maulid Akbar Kanzus Sholawat tahun ini. Hal itu dibuktikan dengan selalu hadir dan aktifnya MATAN Cirebon sejak Haul Habib Toha sampai di Konferensi Internasional Ulama Thariqah Bela Negara yang diadakan hari ini (15/1) di hotel santika Kota Pekalongan.

"Habib Luthfi kan pendiri MATAN, Rais 'Aam JATMAN, dan Guru Kami, orang tua kami. Jadi sudah selayaknya kami ikut berpartisipasi aktif dalam event yang diselenggarakan Beliau", tutur Syukron, Ketua MATAN Cirebon.

Dalam rangka mensukseskan Rangkaian Maulid Akbar Kanzus Sholawat, MATAN Cirebon sudah berada di Kota Pekalongan sejak hari Selasa dan ikut serta aktif dalam membersihkan gedung kanzus sholawat dan membantu mendekorasi gedung kanzus sholawat, serta menjadi petugas penerima tamu dan kontributor tulisan di halaman Facebook Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dan website resmi Habiblutfi.net.

"Sebenarnya kami bingung juga. Di satu sisi kami ingin mengaktifkan dan menghidupkan akun Facebook MATAN Cirebon dan situs matancirebon.org, tapi khidmah kepada Guru kami utamakan sehingga sebenarnya yang ada di akun Habib Luthfi itu mayoritas kontributornya kami", jelasnya.

Menurut Syukron, MATAN Cirebon akan ada di Pekalongan sampai puncak acara Rangkaian Maulid Akbar Kanzus Sholawat hari Ahad (17/1).

"Semua kami tinggalkan demi kami berkhidmah pada Guru. Karena kami yakin, khidmah kami ini akan membawa keberkahan pada kami, dan MATAN Cirebon", pungkas Syukron.

Pekalongan - Beberapa Ulama dari dalam dan Luar Negeri sudah tiba di lokasi Konferensi Internasional Ulama Thariqah Bela Negara yang diadakan Jumat besok (15/1) di Hotel Santika Kota Pekalongan. Demikian sebagaimana dilaporkan oleh kontributor MatanCirebon.org.

"Kurang lebih sudah ada 30 Masyayikh dan Kyai yang sudah mendaftar di kesekretariatan panitia", lapornya.

Kontributor kami melanjutkan, rombongan tamu Masyayikh luar Negeri datang di hotel langsung disambut oleh KH. Ali Mas'adi (wakil Rais 'Aam Idarah 'Aliyah JATMAN) dan KH. Muthi Nurhadi (Mudir 'Aam Idarah 'Aliyah JATMAN).

"Sekitar jam 2 siang lebih Masyayikh luar Negeri tiba di hotel dengan menaiki bus yang disiapkan panitia. Diantara yang sudah hadir adalah Shaykh Fadhil, Shaykh Adnan, Shaykh Mahmud, Shaykh Umar Dib, Shaykh 'Aun, Shaykh Muhammad Sulaiman, Shaykh Aziz Abidin, dan Shaykh Aziz al Idrisi", jelasnya.

Konferensi Internasional Ulama Thariqah Bela Negara merupakan kegiatan yang diadakan oleh Kanzus Sholawat bekerjasama dengan JATMAN sebagai bagian rangkaian Maulid akbar Nabi Muhammad SAW.
Diberdayakan oleh Blogger.