Para ulama khas Nahdlatul Ulama mengadakan silaturahim di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Kabupaten Rembang Jawa Tengah pada Kamis (16/3). Silaturahim tersebut membuah hasil dengan nama "Risalah Sarang". Berikut isinya: 

الرَّحِيمِ الرَّحْمَنِ اللَّهِ بِسْمِ


أُدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
(النحل: ١٢٥)

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An-Nahl: 125)

لِلْعَالَمِينَ رَحْمَةً إِلَّا أَرْسَلْنَاكَ وَمَا
(١٠٧:الأنبياء)

“Kami (Allah) tidak mengutus engkau (Muhammad) kecuali sebagai pembawa rahmat bagi semesta” (QS. Al-Anbiya`: 107)


مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
(الحشر: ٧)

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (Al-Hasyr: 7)




يٰۤاَيُّهَا الَّذِينَ اٰمَنُوا اِن جَاءَكُم فَاسِقٌ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوا اَن تُصِيبُوا قَومًا بِجَهَالَةٍ فَتُصبِحُوا عَلٰى مَا فَعَلتُم نٰدِمِينَ (الحجرات: ٦) ‏




Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Al –Hujurat: 6)


لاَخَيْر فِي كَثِيْرٍ مِنْ نَجْوَاهُم إلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوْفٍ أًوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّأسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ إِبْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللهِ فَسَوْفَ نُوْتِيْهِ أَجْرا عَظِيْما
(النساء: ١١٤)
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahalanya yang besar.
(An Nisa: 114)


امُيَسِّرً مُعَلِّمًا بَعَثَنِي وَلَكِنْ ، مُتَعَنِّتًا وَلا مُعَنِّتًا يَبْعَثْنِي لَمْ اللَّهَ إِنَّ
(رواه مسلم)


“Sesungguhnya Allah tidak mengutusku (Muhammad) sebagai orang yang mempersulit atau memperberat para hamba. Akan tetapi Allah mengutusku sebagai pengajar yang memudahkan (HR. Muslim).

الْأَخْلَاقِ مَكَارِمَ لِأُتَمِّمَ بُعِثْتُ إِنَّمَا
(رواه بيهقي)

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia” (HR. Al-Baihaqi)

السَّمَاءِ فِي مَنْ يَرْحَمْكُمْ الْأَرْضِ فِي مَنْ ارْحَمُوا الرَّحْمن يَرْحَمُهُمْ الرَّاحِمُونَ
(رواه الترمذي)

“Orang-orang yang menyayangi sesama, Sang Maha Penyayang menyayangi mereka. Sayangilah semua penduduk bumi niscaya penduduk langit akan menyayangimu” (HR. At-Tirmidzi)


فَاالتَّفَرُقُ سَبَبُ الضُعْفِ وَالجِذْلاَنِ وَالفَصْلِ فِي جَمِيْعِ الأَزْماَنِ. بَلْ هُوَ مَجْلَبَةُ الفَسَادِ وَمَطِيَّةُ الكَسَادِ وَدَعِيَّةُ الخَرَبِ والدِّمَارِ، وَدَاهِيَةُ العَارِ وَالسَّتَّارِ.
فَكَمْ مِنْ عَا ئِلاَتٍ كَبِيْرَةٍ كَانَتْ فِي رَغَدٍ مِنَ الغَيْشِ وَبُيُوْتٍ كَثِيْرَةٍ كَانَتْ أهِلَةً بِأَهْلِهَا حَتَّى إِذَا دَبَّتْ فِيْهِم عَقَارِبُ التَّنَزُعِ وَسَرَى سُمُّهَا فِي قُلُوْبِهِم، وَأَخَذَ مِنْهُمُ الشَيْطَانُ مَأْخَذَهُ تَفَرَّقُوْا شَذَرَ مَذَرَ فَأَصْبَحَتْ بُيُوْتَهُمْ خَاوِيَةً عَلَى عُرُوْسِهَا
(الرئيس الأكبر لجمعية نهضة العلماء الشيج العالم العلامة محمد هاشم أشعري, مقدمة القانون الأساسي لجمعية نهضة العلماء)


Perpecahan adalah penyebab kelemahan, kekalahan dan kegagalan di sepanjang zaman. Bahkan pangkal kehancuran dan kemacetan, sumber keruntuhan dan kebinasaan, dan penyebab kehinaan dan kenistaan. Betapa banyak keluarga keluarga besar, semula hidup dalam keadaan makmur, rumah-rumah penuh dengan penghuni, sampai satu ketika kalajengking perpecahan merayapi mereka, bisanya menjalar meracuni hati mereka dan syaithan pun melakukan perannya, mereka kocar-kacir tak karuan. Dan rumah-rumah mereka runtuh berantakan. (Rais Akbar Jamiyah Nahdlatul Ulama Hadlratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, Muqaddimah Qanun Asasi)


Bismillahirrahmanirrahim

1. Nahdlatul Ulama senantiasa mengawal Pancasila dan NKRI serta keberadaannya tidak dapat bisa dipisahkan dari keberadaan NKRI itu sendiri. Nahdlatul Ulama mengajak seluruh ummat islam dan bangsa Indonesia untuk senantiasa mengedepankan pemeliharaan negara dengan menjaga sikap moderat dan bijaksana dalam menanggapi berbagai masalah. Toleransi, demokrasi dan terwujudnya akhlakul karimah dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat harus terus diperjuangkan bukan hanya demi keselamatan dan harmoni kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat di Indonesia ini saja, tetapi juga sebagai inspirasi bagi dunia menuju solusi masalah-masalah peradaban yang dihadapi dewasa ini.

2. Lemahnya penegakan hukum dan kesenjangan ekonomi merupakan sumber-sumber utama kegelisahan masyarakat selain masalah-masalah sosial seperti budaya korupsi, rendahnya mutu pendidikan dan sumberdaya manusia, meningkatnya kekerasan dan kemerosotan moral secara umum. Pemerintah diimbau agar menjalankan kebijakan-kebijakan yang lebih efektif untuk mengatasi masalah-masalah tersebut termasuk dengan menerapkan kebijakan-kebijakan yang lebih berpihak kepada yang lemah (affirmatif) seperti reformasi agraria, pajak progresif, pengembangan strategi pembangunan ekonomi yang lebih menjamin pemerataan serta pembangunan hukum ke arah penegakkan hukum yang lebih tegas dan adil dengan tetap menjaga prinsip praduga tak bersalah dalam berbagai kasus yang muncul. Penyelenggaraan negara oleh pemerintah dan unsur-unsur lainnya harus senantiasa selaras dengan tujuan mewujudkan maslahat bagi seluruh rakyat (tasharraful imam manutun bi maslahatirroiyyah).

3. Perkembangan teknologi informasi, termasuk internet dan media-media sosial, serta peningkatan penggunaannya oleh masyarakat membawa berbagai manfaat seperti sebagai sarana silaturahmi nasrul ilmi taawwun alal birri dan sebagainya, tetapi juga mendatangkan dampak-dampak negatif seperti cepatnya penyebaran fitnah dan seruan seruan kebencian, propaganda radikalisme, pornografi, dan halhal lain yang dapat merusak moral dan kerukunan masyarakat. Pemerintah diimbau untuk mengambil langkah-langkah yang lebih efektif baik dalam mengatasi dampak-dampak negatif tersebut maupun pencegahanpencegahannya. Pada saat yang sama para pemimpin masyarakat dihimbau untuk terus membina dan mendidik masyarakat agar mampu menyikapi informasiinformasi yang tersebar secara lebih cerdas dan bijaksana sehingga terhindar dari dampak-dampak negatif tersebut.

4. Para pemimpin negara, pemimpin masyarakat, temasuk pemimpin Nahdlatul Ulama agar senantiasa menjaga kepercayaan masyarakat dengan senantiasa arif dan bijaksana dalam menjalankan tugas masing-masing dengan penuh tanggung jawab adil dan amanah dengan menomorsatukan kemaslahatan masyarakat dan NKRI.

5. Para ulama dalam majlis ini mengusulkan diselenggarakannya forum silaturrahmi di antara seluruh elemen-elemen bangsa untuk mencari solusi berbagai permasalahan yang ada, mencari langkah-langkah antisipatif terhadap kecenderungan-kecenderungan perkembangan di masa depan serta rekonsiliasi diantara sesama saudara sebangsa. Nahdlatul Ulama diminta untuk mengambil inisiatif bagi terwujudnya forum tersebut.




والله الموفق إلى أقوم الطريق




Sarang, 16 Maret 2017

Sumber: NU Online

1
Acara Gus Mus semalam dihadiri oleh Kapolda Jabar (Anton Charliyan), Aster Pangdam Jabar, Walikota Bandung (Ridwan Kamil), Ketua PWNU Jabar, Mustasyar PWNU Jabar, seluruh PCNU Jabar, unsur-unsur NU (banser, fatayat, IPNU, muslimat, dll), dan jamaah bandung dan sekitarnya. 

Kapolda Jabar waktu kasih sambutan menyampaikan harapannya pada NU yang dalam sejarah selalu menjadi pembela terdepan keutuhan bangsa. Ketua PWNU Jabar juga menyampaikan tentang komitmen NU yang sejak dulu selalu menjadi tameng untuk kepentingan bangsa yang lebih besar, walaupun risikonya sering menjadi bulan-bulanan muslimin yang lain (kalau istilah sekarang siap di-bully ramai-ramai untuk menyelamatkan bangsa). 

Walikota Ridwan Kamil, selain menyampaikan harapan besarnya pada NU, dia juga bilang bahwa dalam darahnya mengalir darah “hubbul wathan” nya NU. Dia mengharapkan NU bisa menjadi yang terdepan dalam menangkal zaman penuh fitnah dan hoax ini. Bisa menampilkan Islam yang ramah, bukan Islam yang marah yang belakangan terlihat dimana-mana. Islam yang Rahmatan lil ‘alamiin. Bukan Islam yang pandai kutip-kutip ayat untuk kepentingan kelompoknya (tepuk tangan hadirin bergemuruh). 

Beliau menghimbau semua kita mensyukuri nikmat luar biasa yang dimiliki bangsa Indonesia ini, sambil mengutip ayat “Fa bi ayyi aalaaa’i rabbikuma tukadzibaan”. Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang engkau dustakan? Kita bangsa Indonesia ini aman, sejahtera, dll. Coba lihat beberapa negara timur tengah, lihat Iraq, Afghanistan, Yaman, Suriah, dll. Lalu lihat negara ini yang kita bisa tidur, ibadah, kerja dengan aman dan nyaman. Apakah kita rela untuk merusak nikmat ini?

Selanjutnya pembicara utama Gus Mus mengawali ceramahnya dengan mengatakan bahwa sebagaimana judul acara ini “Muhassabah”, maka saya akan lebih banyak mengkritik NU bukan memuji-mujinya. Beberapa pesan penting dari Gus Mus antara lain adalah:

(a) Seperti disampaikan para pembicara sebelumnya, NU selalu bergerak paling depan untuk membela keutuhan bangsa. Saat ini bangsa sedang diancam oleh kelompok2 yang berusaha memecah belah kerukunan bangsa, lalu dimana NU? Sedang tidurkah? Beliau menceritakan bahwa sehabis ini para kyai sepuh akan berkumpul di Rembang untuk membahas masalah mutakhir bangsa ini. Terpaksa kyai sepuh akan turun gunung, karena yang muda2 banyak yang malah tertarik ikutan euphoria. Kenapa? Apa gentar sama takbirnya? Lalu melanjutkan dengan menjelaskan makna dari takbir dengan memberikan begitu kecilnya kita dibanding seluruh ciptaan Allah yang Maha Luas. Apa yang mau kita sombongkan? Allah yang Maha Besar itu kok diajak ikut kampanye, diajak ikut ke TPS urusan lima tahunan. Apa ndak kebangeten banget itu?!

(b) Beliau cerita pengalamannya bicara berdua dengan Gusdur sambil tiduran di lantai. Beliau bilang ke Gusdur, kalau NU itu dari dulu ndak naik pangkatnya, jadi Satpam terus. Kalau ada sesuatu bahaya, maka NU maju ke depan (seperti sewaktu resolusi jihad, sewaktu DI/TII, PKI, dll). Tapi begitu bahayanya hilang, NU kembali duduk di pojokan sambil rokokan. Begitu terus, ini gimana nih gus? Jawaban Gusdur seperti biasa langsung membuat diskusi berhenti. Allah yarham Gusdur menjawab: “Apa masih kurang mulia kalau kita bisa jadi Satpam nya bangsa ini?” Dan Gusmus pun terdiam tidak bisa melanjutkan omongannya.

(c) Beliau juga berpesan untuk berhati-hati terhadap yang disebutnya Ulama. Ulama memang pewaris para nabi, tapi ulama yang mana? Harus diteliti track record dari yang mengaku Ulama tersebut. Umat ini dibingungkan dengan ulama yang ngeluarkan fatwa sembarangan tanpa ilmu dan tanpa mempertimbangkan dampaknya pada masyarakat luas. 

Kalau perbedaan pendapat itu biasa, sejak dulu ada. Beliau cerita kalau dulu para kyai itu kalau berdebat seberapapun tajamnya sebisa mungkin berusaha para santrinya tidak tahu. Sehingga sering kalau saling serang itu dengan menggunakan syair berbahasa Arab dengan harapan santri-santri masing-masing tidak ikutan panas-panasan. Lha sekarang ini, pimpinannya ribut ngajak jamaahnya. Menyedihkan. Lalu saling sebut kubu yang berbeda dengan sebutan munafik, kafir, dll. Sampai belakangan ada yang melarang jenazahnya disholatkan. 

Apa ndak menjijikkan sekali itu? Lha kalau yang sudah meninggal ndak urusan. Itu kan kewajiban yang hidup, yang dosa ya yang hidup bukan yang sudah meninggal. Lalu menceritakan kemarahan besar Nabi saw terhadap salah seorang sahabat yang membunuh seseorang yg mengucapkan La ilaha illa Llah karena mengatakannya Munafik.

(d) Yang dibilang Ulama jaman sekarang ini mau ikut-ikutan berpolitik, padahal sebenarnya tidak ngerti politik. Dan terus bawa-bawa agama, padahal ya nggak terlalu ngerti agama. Ya apa ndak kacau balau jadinya.

(e) Gusmus berpesan kepada jamaah untuk tidak mengungkapkan sesuatu, menulis sesuatu, atau menshare sesuatu yang dapat dipersepsikan mendukung beberapa kelompok pemecah belah itu. Kalau tidak mampu berhujjah melawan, lebih baik DIAM. Kalau mau tulis, ungkapkan yang baik-baik, hal-hal yang positif, tulis sendiri saja, tidak cuman share tulisan orang lain.

(f) Gusmus menyampaikan bahwa apa yang terjadi sekarang ini adalah hanya pengulangan sejarah yang lampau. Sambil mencontohkan kejadian sewaktu zaman khalifah Utsman bin Affan. Dimana banyak fitnah bertebaran, informasi hoax disampaikan dari mulut ke mulut. Sehingga akhirnya memuncak dengan rakyat yang melakukan pemberontakan (makar) terhadap khalifah Utsman yang akhirnya menyebabkan terbunuhnya beliau. Ingat beliau dulu juga dilarang oleh umat waktu itu untuk dishalatkan di Masjid Nabawi, sehingga akhirnya dishalatkan di rumah beliau sendiri. Karena itu pelajarilah sejarah, karena seringkali sejarah itu berulang.

(g) Gusmus juga berpesan bahwa pada setiap shalawatan, sebaiknya didahului dengan kisah Syama’il ar-Rasul saw, dijelaskan tentang kepribadian beliau SAW. Jadi ummat itu tahu bagaimana akhlaq Nabi saw. Sehingga bisa jadi dasar untuk menilai apakah yang mengaku ulama itu memang pantas disebut para pewaris nabi atau tidak. Allah SWT dalam al-Quran dari awal sampai akhir tidak pernah memuji fisik Rasulullah (walaupun fisiknya dan ketampanannya sempurna), tidak pernah memuji ilmu Rasul saw (walaupun ilmunya tak ada yang menandingi), hanya Allah memuji keluhuran Akhlaq beliau SAW (wa innaka la ‘alaa khuluqin adziem). Oleh karena itu jadikan akhlaq sebagai dasar utama penilaian. Karena itulah tujuan diutusnya Nabi kita saw kepada kita semua.

Syahdan, suatu masa hidup seorang muda pada zaman Amirul Mukminin Harun Ar-Rasyid berkuasa. Pemuda ini berperangai buruk. Banyak perilakunya tidak menarik simpati penduduk Bashrah. Ia bukanlah pemuda idaman masyarakat. Penduduk kota tersebut kehilangan empati terhadapnya.

Karena perilakunya yang tidak terpuji dan banyaknya maksiat terang-terangan itu, ia kehilangan wibawa di tengah masyarakat. Penduduk memandang rendah kepadanya. Tak satupun anggota masyarakat yang peduli kepadanya.

Namun demikian seorang muda ini selalu tampil lebih baik saat bulan Rabi‘ul Awal tiba. Ia berdandan perlente. Ia mencuci pakaian yang dikenakannya. Ia mengenakan wangi-wangian pada pakaiannya. Rambutnya disisir dengan rapi. Ia bercermin untuk memastikan penampilannya yang terbaik.

Apakah yang dilakukan pemuda ini selanjutnya? Di luar dugaan masyarakat ia mengadakan jamuan kenduri. Di tengah jamuan itu ia meminta sejumlah penduduk untuk membacakan maulid atau sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Perjamuan kenduri semacam ini ia lakukan sepanjang usianya setiap kali bulan Rabi‘ul Awal tiba. Setiap kali bulan maulid tiba, setiap kali itu juga ia berhias, berpakaian rapi, mengenakan parfum, menyisir rambut, menjamu penduduk, dan tentu saja meminta salah satu dari mereka untuk membacakan riwayat kelahiran Rasulullah SAW.

Meski demikian, penduduk tidak mengubah pandangannya terhadap pemuda yang beralih senja. Mereka tetap memandang hina salah satu anggotanya ini. Hingga pada giliran Allah mencabut nyawanya, penduduk masih saja membencinya. Penduduk dengan enggan dan berat hati mengurus jenazahnya.

Tetapi alangkah terkejutnya penduduk Bashrah. Ketika orang ini wafat, mereka mendengar suara tanpa bentuk (hatif) yang menggema di atas langit Bashrah.

“Hai sekalian penduduk Bashrah, saksikanlah jenazah salah seorang waliyullah. Ia adalah seorang yang mulia di sisiku,” kata suara tersebut.

Penduduk Bashrah lalu berduyun-duyun menyaksikan jenazah orang tersebut. Mereka mengurus jenazah itu dengan sebaik-baiknya. Mereka menggelar upacara pemakamannya.

Dalam mimpi mereka melihat orang yang baru dimakamkan mengenakan pakaian berbahan sutra halus dan sutra tebal berlungsin emas. Mereka melihat almarhum berjalan penuh wibawa dengan pakaian indahnya.

“Dengan apa kau mendapatkan kehormatan seperti ini? tanya mereka.

“Berkat penghormatan terhadap hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW,” jawab waliyullah tersebut.

Sumber : NU Online




















Kemeja Murah yang tersedia, berbahan:
  • Sepun
  • Katun Ima
  • Katun Polinosik
  • Katun Bangkok
  • Katun Serat Tuwil
  • Katun Full
Kualitas kain dan jahitan, so pasti kualitas distro
Bisa request skala sedikit 1 buah juga bisa maupun banyak maupun seragam

Ukuran S, M, L Rp. 130.000/buah.
Ukuran XL Rp. 135.000/buah
Harga Grosiran / Kodian untuk ukuran S, M, L Rp. 2.300.000

Kontak: 085724631312 - 089670447447 (Muhammad Mustofa )

Prof Ahmad Chatib (Allah yarham) pernah bercerita beliau baru saja membeli sebuah buku dalam perjalanan di luar negeri. Kemudian beliau berpapasan di pintu dengan Gus Dur yang segera melihat buku bagus di tangan Prof Ahmad Chatib. Gus Dur bergegas ke dalam toko buku hendak membeli buku yang sama, tapi ternyata itu stok buku terakhir yang ada. Gus Dur kemudian cepat-cepat mengejar Prof Ahmad Chatib dan meminta beliau untuk meminjamkan buku tersebut.

Prof Ahmad Chatib, yang menceritakan kisah ini di kelas mata kuliah Filsafat Hukum Islam tahun 1994 di IAIN Jakarta, berkata: "terpaksa saya sodorkan buku itu kepada Gus Dur yang ingin sekali membaca buku tersebut". Selang beberapa lama setiap bertemu di Jakarta, Prof Ahmad Chatib selalu menanyakan nasib bukunya yang dipinjam Gus Dur itu. Akhirnya Gus Dur mengembalikan buku itu. Prof Ahmad Chatib terkejut setelah membukanya, "wah buku saya sudah penuh dengan catatan Gus Dur di sana-sini". Rupanya begitulah kesungguhan Gus Dur dalam menelaah sebuah kitab: sampai buku pinjaman pun dicoret-coreti.

Kisah kedua yang hendak saya ceritakan ini mengenai Kiai Abbas dari Buntet Pesantren. Saat Abah saya hendak mengaji kepada Kiai Abbas dengan membawa kitab Jam'ul Jawami', Kiai Abbas mengaku belum terlalu menguasai kitab itu, dan meminta Abah saya datang kembali membawa kitab tersebut beberapa hari ke depan. Rupanya Kiai Abbas menyimak dulu isi kitab ushul al-fiqh karya Imam al-Subki tersebut, dan kemudian setelah itu Abah saya dipanggil kembali dan Kiai Abbas dengan lancar mengajarkan isi kitab tersebut.

Dua kisah di atas saya ceritakan untuk menunjukkan kesungguhan para Kiai itu menuntut ilmu. Para Kiai itu membaca, menyimak dan memberi catatan isi kitab. Mereka menjadi alim bukan terjadi begitu saja. Sengaja diambil kisah dua kiai, yaitu KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Kiai Abbas. Kedua tokoh hebat pada masanya masing-masing ini lebih sering dibahas karomah beliau berdua ketimbang dikisahkan kesungguhan beliau berdua belajar menuntut ilmu.

Kiai Abbas, menurut penuturan Abah saya yang menjadi santri khususnya, sangat menguasai ushul al-fiqh dan ilmu fiqh perbandingan mazhab. Pengakuan Abah: "kuliah saya di al-Azhar Cairo terasa mudah dengan bekal ilmu yang sudah diajarkan Kiai Abbas". Yang terkenal kemana-mana itu adalah peristiwa heroik 10 November dimana Kiai Abbas merontokkan pesawat sekutu dengan lemparan biji tasbih dan bakiaknya. Tentu saja Abah saya juga menceritakan berbagai karomah gurunya ini, namun setiap saya tanya apa wiridnya, Abah cuma berpesan: "belajar yang rajin saja Nak, belum waktunya membaca wirid macam-macam, nanti kalau kamu sudah jadi Kiai, kamu akan mengerti sendiri hal-hal gaib dan ajaib yang kamu tanyakan itu. Sekarang baca buku lagi!"

Dan kini kalau saya ceritakan kepada para santri bahwa saya meraih dua gelar PhD di dua bidang berbeda, di dua negara berbeda, dan saya selesaikan pada waktu yang bersamaan, spontan yang mereka tanya: "wiridnya apa sehingga bisa seperti itu?" Jarang yang tertarik bertanya bagaimana kesungguhan saya belajar sehingga bisa menyelesaikan dua program PhD tersebut. Lebih menarik bertanya doa dan wiridnya. Mungkin disangkanya lebih mudah wiridan ketimbang membaca buku.

Pesantren itu sejatinya lembaga pendidikan, bukan semata tempat orang belajar mistik apalagi klenik. Ini yang harus ditegaskan karena banyak kesalahpahaman. Selain kesannya ndeso, pesantren itu dikesankan tempat untuk belajar ilmu gaib. Orang tua menjadi takut mengirim anaknya ke pondok. Pulang dari pondok hobinya nanti menangkap jin. Sementara para santri ada sebagian yang bukannya belajar dengan tekun tapi malah sibuk mau jadi waliyullah dengan berharap mendapat ilmu laduni. Bahwa Gus Dur dan Kiai Abbas memiliki karomah, tentu kita yakini itu. Tetapi karomah itu hanya bonus saja, hasil dari istiqamah para kiai yang luar biasa. Istiqamah menuntut ilmu dengan terus rajin belajar, membaca, berdiskusi, dan menulis --ini yang harus kita warisi dari para masyayikh dan guru-guru kita.

Ceritakanlah kepada khalayak bagaimana Mbah Sahal Mahfud membaca dengan tekun dan karenanya menulis berbagai kitab yang luar biasa. Di ruang tamu beliau berjejer kitab fiqh dari mazhab selain mazhab Syafi'i. Kitab dari mazhab Syafi'i malah ditaruh di bagian belakang. "Kenapa?" tanya Prof Martin van Bruinessen. Jawab Mbah Sahal kalem, "karena kitab dari mazhab Syafi'i sudah saya hafal semua."

Kisahkanlah di medsos bagaimana Kiai Ihsan Jampes mengarang kitab yang kemudian dijadikan rujukan di manca negara. Atau tolong mintakan kepada KH Ahmad Mustofa Bisri untuk berkenan bercerita proses kreatif beliau sehingga tercipta berbagai tulisan dan barisan puisi yang menyentuh jiwa dan mengundang kita untuk merenunginya.

Jikalau ini yang kita ceritakan, tidak semata soal karomah para Kiai, baru kemudian umat akan memahami bahwa pesantren itu juga gudangnya dunia ilmu pengetahuan. Dan mereka akan lebih apresiatif saat mengetahui bahwa zikir dan pikir telah menjadi satu tarikan nafas keseharian para Kiai.

Tabik,

Nadirsyah Hosen



Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Setelah wafatnya Assayid Ustman bin Yahya Mufti Betawi pada tahun 1913 M, masyarakat Betawi pada waktu itu mengarahkan perhatiannya kepada Al-Habib Ali bin Abdurrahman AlHabsyi Kwitang.

Dalam setiap urusan Agama mereka menanyakannya kepada AlHabib Ali AlHabsyi yang merupakan murid dari Assayid Ustman bin Yahya.

Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi atau yang lebih masyhur dengan sebutan Habib Ali Kwitang, merupakan tempat berkeluh kesahnya Umat Islam Betawi selepas Sayid Ustman bin Yahya Wafat, Habib Ali yang di kenal di kalangan Masyarakat Betawi mulai dari pejabat hingga rakyat biasa sangat mengenal Habib Ali Kwitang sebagai pendidik dalam Urusan Agama.

Di setiap hari minggu pagi Habib Ali menggelar pengajiannya di Masjid Kwitang yang dihadiri oleh beribu-ribu umat Islam dan hingga saat ini Majelis Ta’lim beliau masih di selenggarakan dan dihadiri oleh puluhan ribu umat yang datang dari sekitar Jakarta dan luar kota.

Habib Ali adalah seseorang Ulama yang memperhatikan nasib umat, dan di dalam keluh kesah umat terhadapnya ada sebuah pertanyaan mengenai bagaimana hal yang baik dilakukan sebelum berangkat Haji, lalu kata Habib Ali berkata pada orang tersebut

” ada baiknya bermaaf-maafan terlebih dulu kepada keluarga sanak famili dan para tetangga yang ada “.

Dan Habib Ali menganjurkan agar membaca Ratib susunan AlHabib Abdullah bin Alwi Al Haddad yang bisa dilihat di Kitab guru beliau Assayid Utsman bin Yahya yang bernama Muslakul Akhyar, dan anjuran dari pada Habib Ali diikuti oleh para murid dan jamaahnya, dan juga ada anjuran Habib Ali kepada para murid dan jamaahnya agar mengumpulkan para tetangga dan kerabat sebelum berangkat Haji dan meminta doa dari mereka serta membaca Ratib bersama, dengan niat memohon kepada Alloh Ta’ala agar diselamatkan pulang dan pergi dalam menunaikan Ibadah Haji.

Karena memang pada waktu itu setiap orang yang akan berangkat Haji menggunakan kapal laut, dan itu memerlukan waktu yang cukup lama.

Al Habib Alwi bin Abdullah bin Salim Al Aththas Bulak Kapal Bekasi menceritakan, di saat beliau berada di daerah Cianjur, Sukabumi, Banten dan daerah daerah di Jawa Barat.

Bahwa Para Ulama, para Ajengan di sana menyatakan Ratib Haji yang memerintahkan pertama kali adalah Habib Ali dari Kwitang, dan mereka para Ulama dan Ajengan mengatakan bahwa Habib Ali mempermudah para Murid dan Jamaahnya dalam urusan Haji, jadi setiap orang yang akan berangkat Haji mengundang para tetangga serta keluarganya untuk meminta maaf dan ridhonya juga meminta doa dari mereka, dan di dalam perkumpulan tersebut juga dibaca Ratib Al Haddad dan kesemua itu merupakan anjuran dari Habib Ali Al Habsyi Kwitang.

Hingga saat ini Tradisi Ratib Haji masih di selenggarakan oleh umat Islam di Jakarta bahkan di Luar Jakarta dan hingga saat ini tradisi tersebut meluas dimana-mana dan para Ulama Jakarta menambahkan anjuran kepada keluarga yang sedang berangkat Haji, agar dibacakan Ratibul Haddad setiap hari selama keluarga tersebut berangkat Haji.

Hal tersebut sebagai mana anjuran AlHabib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri Tebet Jakarta Selatan.

Karena menurut Assayid Ustman bin Yahya Mufti Betawi di dalam Kitab Mislakul Akhyar menyebutkan bahwa banyak manfaat didalam membaca Ratibnya AlHabib Abdulloh bin Alwi AlHaddad yang satu diantaranya akan ada keamaanan dan Keselamatan Yang Alloh Taala berikan kepada yang membacanya.

Demikian sekilas yang bisa kami Suguhkan.

Sumber : Anto Djibril

Kloter pertama jamaah haji Indonesia sudah diberangkatkan. Artinya, musim haji sudah di depan mata. Maulana Habib Luthfi pernah mengatakan bahwa kita harus niat melaksanakan ibadah haji setiap tahunnya ketika kita belum melaksanakan ibadah haji.

Adapun kang Olib, menuliskan pesan beberapa orang yang beliau hormati ketika dulu beliau mau berangkat Haji, yaitu:

1.KH.Masduki Ali (Kakek):
"Perbanyak ibadah Thowaf,sebab muter-muter (Thowaf) dan dihitung IBADAH ya cuma ada di Masjidil Haram Mekah."

2.Amy (Paman) Abah Thohir bin Yahya:
"Usahakan ketika di Mekah atau Madinah Untuk Berpuasa walau satu hari,Karena pahala disana berlipat,juga melaksanakan Qodlo Sholat (untuk 'melengkapi' sholat yang telah lampau),dan Bershodaqoh".

3.Amy Abah Usman bin Yahya:
"Tanah Haram adalah tanah Suci (Istilah),makanya saya disana tidak pernah pakai sandal,ya karena Suci (makna lafadz)".

4.Amy Abah Thoha bin Yahya:
"Saya kalau sedang disana,saya memperbanyak Umroh dan Bersholawat,tidak berapa kali atau berapa,saya bahkan tidak menghitungnya, pokoknya Sekuat tenaga saya!.

5.Abah Muh (Habib Muhammad bin Yahya Jagasatru)
" Jangan pernah menyombongkan diri sedikitpun,karena disana tempat Mulia dan banyak manusia (Makhluk) Istimewa".

6.KH.Mustahdi Winong:
"Menyentuh wanita disana (ketika Thowaf) jika tidak diniati atau tidak disengaja, tidak membatalkan Wudlu."

7.Ibuku ( Mi Hj.Himayyah Masduki)
"Setelah melaksanakan Haji dan Umroh wajib,serta selesai melaksanakan beberapa Umroh Sunnah,saya mengUmrohkan(Umroh Badal/pengganti-Umroh yg pahalanya untuk orang lain)saudara dan orang tua(juga kakek-nenek) yg telah meninggal dunia".

8.Abah Hud bin Yahya.
"Perbanyak berdo'a setelah Asyar,sampai Sebelum Maghrib,Itu waktu Mustajabah,apalagi jika sedang berada di Mekkah".

Tambahan dari Abah: "Kalau belanja,jangan di Mekkah saja,Kasihan Orang yang Jualan di Madinah (juga sebaliknya). ***bagi-bagi rezeki"

Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni Budaya Muslimin Nahdlatul Ulama (PP Lesbumi NU) KH Agus Sunyoto mengatakan, bahwa proklamasi kemerdekaan dimaknai sebagai kebangkitan bangsa Indonesia dan semangat kebangkitan bangsa Asia. 

Hal itu adalah tafsiran Kiai Agus pada data sejarah dan jejak pikiran Presiden Pertama Indonesia Soekarno. Menurutnya, Bung Karno paham bahwa bangsa kulit putih tidak akan rela melepaskan bangsa-bangsa kulit berwarna, terutama bangsa Indonesia untuk merdeka seutuhnya. 

Menurut Bung Karno, kutip Kiai Agus, Belanda akan mengubah model penjajahan dengan kolonialisme baru. “Kalau kolonialisme lama Belanda datang ke sini membuat pemerintahan di sini, kemudian diubah dengan penjajahan baru; Belanda, Amerika, Inggris, Asutralia, akan datang ke Indonesia cuma modalnya,” jelasnya pada “Ngaji Sejarah” yang digelar Lesbumi di Masjid An-Nahdlah lantai dasar gedung PBNU, Jakarta, Selasa malam (9/8).

Negara-negara tersebut akan membuat perusahaan multinasional. Pekerjanya yang diangkat orang Indonesia sendiri, tapi keuntunganya mengalir ke negara mereka sendiri. “Bung Karno menegaskan itu pada “Indonesia Menggugat tahun 1933”. ‘Tidak akan lama lagi, Amerika, Inggris, Belanda, Australia, Kanada, akan perang dengan Jepang untuk merebut sumber daya di Indonesa,’ begitu pledoi Bung Karno,” tambahnya. 

Ketika datang Jepang, Bung Karno dianggap kolaburator karena melakukan kerja sama dengan mereka. Memang betul dan itu tak bisa dipungkiri. Namun, ia melakukan itu karena mengenggap kerja sama dengan negara sesama Asia bisa sederajat. Sementara kerja sama dengan negara Barat sudah terbukti dianggap sebagai budak. 

Hal ini pula yang dilakukan Bung Karno saat menjadi presiden dengan membuka kerja sama dengan Tiongkok yang dikenal dengan istilah poros Jakarta-Peking. Tapi kenyataannya hal itu dianggap “kejahatan sejarah”. Bagitu juga ketika zaman pemerintahan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang melakukan hal yang sama. Juga dianggap kejahatan sehingga ia digulingkan. “Kita melihat dibalik semangat nasionalisme Indonesia ada semangat untuk Asia bangkit,” kata penulis buku “Atlas Wali Songo” ini.

Tak hanya itu, Bung Karno juga melakukan kerja sama Asia dan Afrika dengan mengadakan Konferensi Asia Afrika. Ketika terjadi perang dingin, Bung Karno menginisiasi Gerakan Non-Blok. 

“Itu kekuatan-kekuatan negara baru. Tapi kalah juga. Kebijakan Bung Karno dilanjutkan Gus Dur, tapi tidak bisa karena jumlah didikan Barat lebih banyak yang menentang. Sekarang Jokowi juga yang melalukan hubungan dengan Cina, isunya pekerja yang datang itu isinya tentara. Data dari mana? Itu tandanya jangan sampai Indonesia menjalin hubungan dengan sesama Asia,” jelasnya. 

Hal karena Indonesia dan Tiongkok adalah negara konsumen besar. Hubungan antara Asia dengan Asia akan mengganggu kepentingan negara besar seperti Amerika. “Susahnya banyak yang menjadi penguasa kita lulusan yang dididik kolonial. Mentalitas mereka adalah mentalitas kolonial. Kita harus menjadi koordinat negara lain. Dan faktanya sampai sekarang,” katanya sambil mengatakan, itulah cara pandang sejarah emik, sejarah dengan kacamata kita, bukan kacamata orag lain atau negara lain.

Pada kesempatan tersebut, Ngaji Sejarah yang dipandu pengurus Lesbumi Lodji Hadi juga dihadiri narasumber mantan Menteri Sekretaris Negara pada Kabinet Persatuan Nasional bentukan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Bondan Gunawan. Kegiatan tersebut dihadiri juga anak-anak muda NU dan beberapa pengurus lembaga dengan diakhiri pembacaan puisi dan doa oleh Abdullah Wong.

Alkisah seorang ulama kharismatik di daerahnya—sebut saja Kiai Iman—membeli sebuah mobil mewah seharga hampir 500 juta rupiah. Padahal, di rumahnya sudah ada mobil yang juga cukup mahal, kira-kira 200-an juta rupiah. Dipakailah mobil mewat itu untuk mudik Lebaran sebagaimana lazimnya para perantau.

Suatu ketika seorang tamu datang ke kediaman Kiai Iman untuk bersilaturahim dan halal bihahal dengannya. Melihat dua mobil mewah terparkir di depan rumah, si tamu pun tak betah menahan tanya.

"Mohon maaf, Kiai, itu mobil mewah punya Kiai?

"Ya, itu mobil saya. Kenapa? Tanya balik Kiai Iman.

"Enggak apa-apa, Kiai. Ngomong-ngomong harganya berapa, kok keren banget?” Si tamu makin kepo.

Kiai pun menjawab, "Ah itu mobil murah, cuma 475 juta.”

Mendengar jawaban sang kiai tamu pun tercengang. Mungkin benaknya memberontak, tak percaya dengan apa yang dilihatnya: mana mungkin seorang kiai yang kesibukanya mengajar di pesantren mampu membeli mobil dengan harga fantastis?

Entah apa yang dipikirkan, si tamu tiba-tiba memberanikan diri untuk menegur sang kiai. "Mohon maaf, Kiai, Anda ini seorang kiai kenapa Anda mengajarkan kepada santri untuk cinta dengan duniawi?”
"Kok bisa?” Sahut Kiai Iman.

"Ya jelas, karena Kiai membeli mobil mewah, padahal sudah punya mobil mahal.”

"Kalau orang melihat saya beli mobil, lalu mereka ingin seperti saya, kenapa kalau saya shalat malam orang tidak ingin seperti saya. Kalau saya zikir malam kenapa mereka tak ingin seperti saya. Kalau saya berbuat baik kenapa orang tak ingin berbuat baik seperti saya.”

Mendengar jawaban sang kiai, si tamu pun terdiam. Tampak merenung dengan apa yang disampaikan oleh Kiai Iman. Ia pun seperti sadar bahwa dirinya terkena wabah iri terhadap hal-hal duniawi bukan iri terhadap hal-hal ukhrawi. 

Cinta dunia sesungguhnya tak diukur dari seberapa besar harta yang dimiliki. Zuhud seseorang bergantung pada sikap batinnya. Seseorang yang memiliki kecenderungan hati pada kesenangan duniawi, meski tampak tak punya harta sama sekali, itu sudah masuk cinta dunia (hubbud dunya).

Dalam keluarga kecil Sayyidina Ali karramallâhu wajhah terdapat 5 orang yang tinggal serumah: Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan, Husain dan Haris. Suatu kali satu keluarga ini sudah tiga hari tidak makan. Sedangkan Fatimah, istri Ali hanya mempunyai selembar kain sarung, namun ia rela memberikannya kepada sang suami untuk kemudian dijual. Setelah kain sarung terjual seharga 6 dirham, Ali menyedekahkan uang hasil penjualan kepada orang-orang fakir.

Dalam kitab An-Nawadir dikisahkan, setelah Ali menyedekahkan 6 dirham dari hasil penjualan, ia ditemui malaikat Jibril yang menjelma manusia. Jibril datang dengan membawa unta dari surga. Jibril berkata, "Hai ayahanda Hasan, tolong anda beli unta saya ini!" 

Ali menyahut dengan segera "Wah, saya sedang tak punya apa-apa, aku tak kuat membelinya."

"Ya sudah, belilah dengan tempo saja."

"Lha engkau mau jual berapa?"

"Seratus dirham" kata Jibril yang masih dalam jelmaan manusia.

Benar, jual beli sudah pada kata sepakat. Ali menerima tali kendali sedangkan Jibril meniggalkan lokasi jual beli. 

Tanpa berselang waktu lama, Malaikat Mikail datang menghampiri. Ia juga datang menjelma sebagai orang dari penduduk pedalaman (a'rabi) dan langsung bertanya. "Hai ayah Hasan, apakah engkau akan menjual unta ini?"

"Iya."

"Berapa besar biaya saat kau membelinya?"

"Seratus dirham," jelas Ali.

"Ya sudah, saya beli saja ya? Anda saya kasih untung 60 dirham," tawar orang desa tersebut.

Setelah keduanya sepakat dengan harga 160 dirham serta Ali sudah memegang uangnya, penjual pertama lalu (Jibril yang menjelma) datang kembali ke lokasi. 

"Kau telah menjual unta tadi, Ali?" tanya Jibril.

"Iya."

"Kalau begitu, mana uang hakku?" tagih Jibril. 

Seratus dirham diberikan sebagai biaya pembelian, sedangkan Ali sekarang masih mendapat sisa uang 60 dirham. Ali pun segera pulang. Dan ketika sampai di rumah, ia ditanya Fatimah. "Dari mana kau suamiku?"
"Aku habis jual beli dengan Allah sebesar 6 dirham kemudian Allah memberikan aku 60 dirham. Pada setiap 1 dirham dibalas 10 dirham."

Lalu Ali bin Abi Thalib datang sowan kepada Rasulullah. Ia menceritakan seluruh kronologi kejadian. Dan Baginda Nabi memberikan penjelasan, "Hai Ali, penjual itu adalah Jibril, pembelinya adalah Mikail. Unta tersebut adalah kendaraan Fatimah kelak saat hari kiamat."

Nabi melanjutkan, "Hai Ali, engkau diberi tiga hal yang tak pernah diberikan kepada siapa pun. Engkau punya istri yang akan menjadi pimpinan wanita ahli surga. Engkau mempunyai dua anak laki-laki yang akan menjadi pimpinan penduduk surge, serta engkau mempunnyai mertua yang menjadi pimpinan para utusan. Bersyukurlah kepada Allah, pujalah Dia atas segala nikmat yang diberikan kepadamu.

Sumber: NU Online

Sudah sepantasnya manusia senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Bagaimana tidak, atas kebaikan-Nya kita dapat merasakan kenikmatan dan kebahagian selama hidup di dunia ini. Kenikmatan tersebut dapat berupa kesehatan, kesempatan, kehidupan, kekayaan, kelapangan, dan lain-lain. Dalam surat Ibrahim ayat 7, Allah SWT mengatakan, “Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. 

Terdapat banyak cara untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan, salah satunya ialah sujud syukur. Sujud syukur disunnahkan pada saat kita mendapati kenikmatan. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW, Sahabat Abu Bakrah mengisahkan, “Bila Rasulullah SAW mendapati kemudahan dan kabar gembira, beliau langsung tersungkur bersujud kepada Allah SWT,” (HR Ibnu Majah).

Menurut Al-Nawawi, tidak boleh bersujud kecuali ada sebab dan legalitasnya. Kendati dipersoalkan oleh sebagian ulama kebolehan sujud syukur, paling tidak hadis di atas menjadi salah satu rujukan utama dibolehkannya sujud syukur. Tentu tidak semua kondisi kita disunahkan sujud syukur, karena bagaimanapun hampir setiap detik kita merasakan nikmat yang patut kita syukuri. Dalam Taqriratus Sadidah, Hasan bin Ahmad Al-Kaf menyebutkan empat kondisi yang disunnahkan untuk sujud syukur:


Pertama: Mendapat Rezeki Nomplok


“Memperoleh nikmat yang tak terduga, baik yang tampak semisal kelahiran anak, kedatangan orang yang hilang, dan sembuh dari penyakit, atau yang tidak tampak seperti memperoleh pengetahuan bagi diri sendiri ataupun anak.”

Disunahkan sujud syukur pada saat mendapat rejeki nomplok atau dari jalan yang tak terduga. Misalnya, ketika kesulitan dan hutang menumpuk, tiba-tiba ada orang yang memberikan kita uang dengan jumlah yang sangat banyak. Pada saat itu disunahkan bagi kita untuk sujud syukur.


Kedua: Terhindar dari Bahaya


“Terhindar dari bahaya secara tiba-tiba, seperti selamat dari runtuhan (bangunan), tenggelam, dan musibah lainnya.”

Manusia tidak dapat meramalkan apa yang akan terjadi esok hari. Bisa saja dia akan mendapati nasib baik di hari esok atau nasib buruk. Demikian pula dengan musibah dan bencana, tidak ada seorang pun yang mampu menaksir waktu kejadiannya. Karenanya, saat terjadi bencana alam yang menelan korban jiwa, kemudian kita selamat dari bencana tersebut, maka disunnahkan untuk sujud syukur.


Ketiga: Melihat Penjahat atau Pelaku Maksiat


“Melihat orang fasik, baik yang tampak kefasikannya ataupun tertutup dan terus menerus melakukan dosa kecil. Disunnahkan memperlihatkan sujud syukur kepada orang yang berbuat dosa secara terang-terangan bila tidak dikhawatirkan terjadi fitnah.”

Di mana-mana hampir ditemukan orang jahat, baik di desa maupun kota. Terlebih lagi di kota besar, penjahat dan pelaku maksiat hampir ditemukan di setiap sudut. Ketika melihat orang yang melakukan maksiat, disunahkan untuk kita melakukan sujud syukur, meskipun dia melakukan dosa kecil tapi terus-menerus.

Dalam kondisi ini, dianjurkan untuk memperlihatkan sujud syukur kepadanya. Hal ini dapat dilakukan bila dikhawatirkan tidak terjadi fitnah atau gangguan lainnya.


Keempat: Melihat Orang Tertimpa Musibah


“Melihat orang tertimpa musibah, baik musibah pada tubuhnya maupun akalnya. Musibah yang dimaksud ialah tidak sempurnanya anggota tubuh dan fungsi tubuh seseorang, seperti buta dan tuli. Pada saat melihat orang cacat, tidak boleh memperlihatkan sujud syukur di hadapannya.”

Allah menciptakan sebagian makhluknya tidak sempurna secara fisik dan mental. Pada intinya, setiap manusia pasti diberikan kelebihan dan kekurangan. Pada saat mendapati orang cacat atau penyandang difabel, disunnahkan bagi kita untuk sujud syukur. Sujud syukur dilakukan sebagai bentuk terima kasih atas kelebihan dan kesempurnaan yang diberikan Tuhan. Tidak boleh melakukan sujud syukur di hadapan mereka secara langsung, karena takut menghina dan menyakiti perasaan mereka.

Demikianlah empat kondisi yang dianjurkan untuk sujud syukur. Bila menemukan salah satu dari empat kondisi tersebut segeralah sujud syukur. Tata cara pelaksaannya hampir mirip dengan sujud tilawah, artinya jumlah sujudnya hanya satu kali dan dilakukan di luar shalat. Sebelum sujud, takbirlah terlebih dahulu dan setelah itu bangun dari sujud, langsung salam. Wallahu a’lam.

Sumber: NU Online

Jandab bin Janadah, populer dengan nama Abu Dzar Al-Ghifari, termasuk sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW. Ia disebut sebagai orang yang paling baik, ramah, dan santun perangainya. ‘Ali bin Abi Thalib, sebagaimana yang dikutip Al-Mizi dalam Tahdzibul Kamal mengatakan, “Saya mendengar Rasulullah SAW berkata, ‘Setiap nabi diberikan tujuh orang (sahabat) mulia dan halus (sifat dan tabiatnya), sementara aku diberikan 14 orang yang baik lagi halus bawaannya.’” Di antara sahabat yang dimaksud Rasulullah SAW ialah Abu Dzar Al-Ghifari.

Menurut catatan sejarah, Abu Dzar pertama kali masuk Islam di Mekah, kemudian dia kembali ke kampung halamannya, dan pergi ke Madinah ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke sana. Sahabat ini meninggal pada tahun 32 hijriah, tepatnya masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan.

Semasa hidupnya, Rasulullah pernah berpesan tujuh hal kepada pemuda berkulit sawo matang ini. Wasiat ini terekam dalam kitab Bughyatul Bahits ‘an Zawaid Musnad Harits karya Ibnu Abi Usamah (w 282 H). Arti & isinya, kurang lebih sebagai berikut ini:

“Karibku (Nabi Muhammad SAW) mewasiatkan tujuh hal kepadaku: pertama, agar aku senantiasa melihat orang yang di bawahku dan jangan sekali-kali melihat orang yang di atas; kedua, mencintai orang miskin dan mendekati mereka; ketiga, selalu berkata benar, meskipun pahit; keempat, tidak meminta-minta kepada siapapun; kelima, menjalin tali silaturahmi sekalipun mereka berpaling; keenam, tidak takut dicaci ketika berdakwah di jalan Allah, ketujuh; memperbanyak membaca laa haula wa quwwata illa billah.”

Tujuh pesan yang disampaikan Nabi SAW ini tentu tidak terkhusus untuk Abu Dzar semata. Kendati wasiat ini disampaikan kepadanya, namun makna hadits ini tetap berlaku umum. Siapapun dianjurkan bahkan diwajibkan. Ini sejalan dengan kaidah, al-‘ibratu bi ‘umumil lafdzi la bi khususis sabab (yang menjadi patokan keumuman redaksi hadits, bukan konteks spesifiknya).

Dilihat dari isi wasiatnya, sebagian besar nasihat Nabi SAW ini sangat layak dijadikan panduan menjalani kehidupan. Terlebih lagi, kontennya tidak hanya berisi ibadah ritual, tapi juga berupa panduan etika, motivasi hidup, dan panduan bermasyarakat.

Misalnya, Nabi meminta untuk melihat orang yang di bawah kita dan jangan terlalu fokus pada orang yang di atas kita. Maksudnya, dalam menjalani kehidupan tentu ada yang memiliki kelebihan dan kekurangan, sering kali kita iri terhadap orang yang diberikan kelebihan, akibatnya kita malah menjadi orang yang kurang bersyukur.

Dengan memperhatikan kondisi hidup orang di bawah kita baik dari sisi ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan, hal ini akan memupuk keprihatinan dan rasa syukur terhadap nikmat yang sudah diberikan Tuhan.

Begitu pula dengan anjuran mencintai fakir miskin dan mendekati mereka. Kita dituntut memperhatikan mereka dan memberikan sebagian kelebihan yang kita miliki untuk membantu kehidupan mereka. Memberikan bantuan terhadap fakir miskin tersebut membuat ikatan persaudaraan dan kemanusiaan kita semakin menguat. Semoga kita dapat mengamalkan isi wasiat ini. Wallahu a’lam.

Sumber: NU Olline

Strategi dakwah di setiap negeri-negeri Islam jelas berbeda. Terikat pada jenis mazhab yang dipegang oleh tiap negara tersebut. Tiap negara punya kekurangan dan kelebihan. Di antara negara itu sendiri terdiri dari suku-suku dan bangsa-bangsa, adat istiadat yang berbeda.
Peranan apa yang harus kita lakukan di dalam dakwah bagi negeri masing-masing? Apakah bisa kita mampu membangun intelektualitas, terutama berdasar Quran dan hadits yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan masa kekinian.

Kalau kita bicara tentang khilafiyah, tentu akan terus berlangsung sampai akhir zaman. Kita melulu bertikai tentang Hanafi, Hanbali, Syafii. Sampai kapan? Kita berputar-putar dalam perdebatan sementara negeri lain sudah maju. Baik dalam ilmu kedokteran, pertanian, nuklir, teknologi, belum lain-lainnya. Padahal semua ilmu tersebut ada di dalam kitab suci kita sendiri, Al-Quran.

Betapa lucunya, ketika kita minum obat, kita baca bismillah. Sedangkan yang membuat obat tersebut mungkin tidak paham apa itu bismillah. Apa upaya kita agar yg membuat obat tersebut mengucap dan memahami Basmalah. Bagaimana kita bisa demikian? Lalu sampai kapan kita akan terus menerus bertengkar tentang perbedaan?

Saya berharap, fakultas terbesar dalam kedokteran harusnya ada di Indonesia, Suriah, atau dimanapun negara kaum muslimin. Sampai kita harus paham ilmu atom, ilmu-ilmu sains lain, yang semuanya sebenarnya ada di dalam Quran. Saya selalu saja sedih jika mendengar pertikaian pendapat umat Islam atas hal-hal khilafiyah. Kita malu. Malu kepada siapa? Kepada Allah dan Rasulullah!

Ini suatu pukulan yang harus kita sadari.

Maka kami harapkan konferensi ini menghasilkan manfaat, berupa kesadaran dan gerakan tentang hal ini, yang bisa kita bawa kembali ke tempat masing-masing. Karena hal tersebut merupakan bentuk bela negara.

----------

[Kalimat penutup dari Maulana Habib Luthfi bin Yahya dalam Konferensi Internasional Bela Negara hari pertama, Pekalongan 27 Juli 2016]

Sumber: Jatman Event

Dalam acara malam ta’aruf, Selasa (26/7) di Gedung Khanzus Shalawat Pekalongan sebelum pembukaan Konferensi Internasional Ulama Thariqah bertajuk Bela Negara, Rais Aam Jam’iyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya menjelaskan membela negara harus dilakukan oleh seluruh elemen bangsa.

Sebab hal itu adalah modal memperkuat bangsa dan negara dari keterpecahbelahan. Ulama sekaligus Mursyid Thariqah ini juga secara tegas menyampaikan penyebab sebuah bangsa mudah dipecah belah. Hal ini dia sampaikan di hadapan para ulama thariqah internasional nasional yang hadir dalam malam ta’aruf tersebut.

Menurutnya, penyebab sebuah bangsa mudah dipecah belah yaitu karena ruh dari bangsa tersebut sudah melentur. Karena sudah melentur, bangsa tersebut tidak mempunyai pijakan kokoh dalam memahami identitasnya sendiri sehingga mudah diprovokasi.

“Saya sedikit mempelajari bahwa mudahnya sebuah bangsa dipecah belah karena ruh bangsa tersebut sudah luntur,” tegas Habib Luthfi.

Di Dalam acara malam ta’aruf, Selasa (26/7) di Gedung Khanzus Shalawat Pekalongan sebelum pembukaan Konferensi Internasional Ulama Thariqah bertajuk Bela Negara, Rais Aam Jam’iyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya menjelaskan membela negara harus dilakukan oleh seluruh elemen bangsa.

Sebab hal itu adalah modal memperkuat bangsa dan negara dari keterpecahbelahan. Ulama sekaligus Mursyid Thariqah ini juga secara tegas menyampaikan penyebab sebuah bangsa mudah dipecah belah. Hal ini dia sampaikan di hadapan para ulama thariqah internasional nasional yang hadir dalam malam ta’aruf tersebut.

Menurutnya, penyebab sebuah bangsa mudah dipecah belah yaitu karena ruh dari bangsa tersebut sudah melentur. Karena sudah melentur, bangsa tersebut tidak mempunyai pijakan kokoh dalam memahami identitasnya sendiri sehingga mudah diprovokasi.

“Saya sedikit mempelajari bahwa mudahnya sebuah bangsa dipecah belah karena ruh bangsa tersebut sudah luntur,” tegas Habib Luthfi. Beliau juga menjelaskan kepada seluruh ulama dan masyarakat yang hadir bahwa pemuda tetap memiliki peran penting dalam memperkokoh bangsa dan negara. Sebab itu para pemuda Indonesia harus memahami akan bangsa dan negaranya dengan wawasan kebangsaan secara menyeluruh.

“Jika para pemuda sudah tumbuh akan kecintaannya kepada bangsa dan negara, maka bangsa ini tidak akan mudah dipecah belah,” tutur Habib Luthfi.

Selain sekitat 65 ulama mancanegara dan Menhan Riyamizard Riyacudu yang hadir, terlihat juga ulama nasional seperti KH Maimoen Zubair, KH Saifuddin Amsir, KH. Soleh Qasim Sidoarjo, KH. Ali Mas’adi Mojokerto, Habib Zain bin Smith Jakarta, dan KH Abdul Jalil Wonosobo.a menjelaskan kepada seluruh ulama dan masyarakat yang hadir bahwa pemuda tetap memiliki peran penting dalam memperkokoh bangsa dan negara. Sebab itu para pemuda Indonesia harus memahami akan bangsa dan negaranya dengan wawasan kebangsaan secara menyeluruh.

“Jika para pemuda sudah tumbuh akan kecintaannya kepada bangsa dan negara, maka bangsa ini tidak akan mudah dipecah belah,” tutur Habib Luthfi.

Selain sekitat 65 ulama mancanegara dan Menhan Riyamizard Riyacudu yang hadir, terlihat juga ulama nasional seperti KH Maimoen Zubair, KH Saifuddin Amsir, KH. Soleh Qasim Sidoarjo, KH. Ali Mas’adi Mojokerto, Habib Zain bin Smith Jakarta, dan KH Abdul Jalil Wonosobo.
Diberdayakan oleh Blogger.